SUMATERA UTARA — Pergerakan IHSG hari ini menunjukkan tekanan jual yang cukup dominan sejak menit pertama perdagangan. Setelah dibuka menguat 0,19 persen ke 6.207, indeks langsung berbalik arah dan menyentuh level 6.140. Kondisi ini mencerminkan sentimen negatif yang menyelimuti pasar saham domestik.
Indeks LQ45 ikut tertekan 0,28 persen ke 617, sementara indeks JII melemah 0,26 persen ke 376. IDX30 juga turun 0,21 persen ke 348, dan MNC36 melemah 0,17 persen ke 269. Pelemahan terjadi secara merata di hampir seluruh indeks acuan.
Dari 11 indeks sektoral, hanya empat sektor yang mampu bertahan di zona hijau: energi, properti, industri, dan kesehatan. Sementara itu, tujuh sektor lainnya kompak melemah. Sektor konsumer siklikal, infrastruktur, bahan baku, dan teknologi menjadi yang paling tertekan. Konsumer non-siklikal, keuangan, dan transportasi juga tak luput dari aksi jual.
Dominasi sektor keuangan yang melemah menjadi salah satu penyebab utama IHSG tak mampu bertahan di zona hijau. Saham-saham perbankan besar yang menjadi motor indeks terpantau dalam tekanan jual.
Di tengah pelemahan pasar, beberapa saham justru mencatatkan kenaikan signifikan dan masuk jajaran top gainers. Tiga saham yang memimpin antara lain PT DFI Retail Nusantara Tbk (HERO), PT Arthavest Tbk (ARTA), dan PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE). Ketiga saham ini berhasil menarik minat beli investor di tengah sentimen negatif pasar.
Data transaksi awal menunjukkan volume perdagangan mencapai 3,09 miliar saham dengan nilai Rp2,1 triliun. Jumlah saham yang melemah (380) hampir dua kali lipat dari saham yang menguat (198), mengonfirmasi dominasi tekanan jual pada sesi pembukaan.
Investor perlu mencermati pergerakan selanjutnya, mengingat tekanan jual yang masih dominan di awal sesi. Jika pola ini berlanjut, IHSG berpotensi menguji level support terdekat di kisaran 6.100.