MTQ Sumut Ke-40 di Medan Bukan Sekadar Lomba Baca Alquran, Ini Fungsi Sosial dan Ekonominya

Penulis: Wan Rizal  •  Jumat, 05 Juni 2026 | 12:25:31 WIB
Peserta MTQ Sumut ke-40 tampil dalam cabang seni baca Alquran di Medan, Juni 2026.

MEDAN — Sebanyak sebelas cabang akan dipertandingkan dalam MTQ Sumut ke-40 yang berlangsung di Medan, 16–24 Juni 2026. Cabang tersebut meliputi seni baca Alquran, qira’at, hafalan, tafsir, fahmil Qur’an, syarhil Qur’an, seni kaligrafi, hingga musabaqah karya tulis ilmiah Alquran dan Al-Hadis.

Tema yang diusung adalah “Satu Irama Tilawah Satu Tekad Dalam Kolaborasi Sumut Berkah”. Dalam perspektif ilmu komunikasi, tema ini mengandung pesan keselarasan nilai dan sinergi tindakan untuk membangun masyarakat Sumatera Utara yang berkah dan berkemajuan.

Bukan Sekadar Lomba, Tapi Ritual Sosial

Dosen Ilmu Komunikasi UINSU Dr Indira Fatra Deni P, S.Sos I, MA, dalam tulisannya menekankan bahwa MTQ jangan dipahami sekadar ajang perlombaan membaca Alquran. “Melainkan menjadi ruang komunikasi religius yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat,” tulisnya.

Menurut Indira, pelaksanaan MTQ melibatkan pemerintah daerah, tokoh agama, lembaga pendidikan, pelaku UMKM, hingga masyarakat umum. Fenomena ini menunjukkan MTQ bertransformasi menjadi arena interaksi sosial yang mempertemukan nilai spiritual dan kepentingan pembangunan daerah.

Ia mengaitkan hal ini dengan teori komunikasi ritual James W. Carey. Komunikasi bukan sekadar transmisi informasi, melainkan ritual yang memelihara kehidupan bersama melalui pembentukan makna kolektif. “Disaat ribuan orang berkumpul untuk mendengar lantunan ayat suci Alquran, disitu pulalah keberlangsungan proses produksi nilai yang memperkuat identitas dan solidaritas sosial masyarakat,” tulisnya.

Simbol Religius dan Kolaborasi Lintas Generasi

Indira menjelaskan, simbol-simbol religius dalam MTQ hadir melalui tilawah, tafsir, syarhil Qur’an, kaligrafi, dan berbagai ekspresi budaya Islam lainnya. Simbol-simbol itu tidak hanya dipertontonkan, tetapi juga diinternalisasi menjadi pedoman hidup yang memengaruhi cara masyarakat memandang kehidupan sosial.

MTQ Sumut ke-40 juga melibatkan generasi muda secara luas—bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai dewan hakim, panitia, operator, konten kreator dakwah, hingga pengembang literasi digital berbasis nilai Islam. “Kolaborasi generasi tua dan muda menunjukkan bahwa MTQ melahirkan efek sosial yang konstruktif,” tulis Indira.

Dampak Ekonomi bagi UMKM Lokal

Mobilitas manusia dalam jumlah besar selama penyelenggaraan MTQ berdampak pada peningkatan sektor transportasi, hotel, kuliner, dan usaha mikro kecil menengah. Masyarakat lokal dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan produk unggulan daerah.

“Sehingga kegiatan keagamaan dapat berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi masyarakat, investasi sosial dan menghasilkan manfaat multidimensi bagi daerah penyelenggara,” tulis Indira.

Sumatera Utara sendiri merupakan masyarakat inklusif dengan keberagaman suku seperti Melayu, Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, Batak, Mandailing, Nias, Jawa, Minang, Aceh, dan Banjar. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang meningkatkan sikap individualisme, MTQ diharapkan menjadi pemersatu umat dengan semangat kebersamaan menuju Sumut yang berkah.

Reporter: Wan Rizal
Sumber: okemedan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top