SUMATERA UTARA — Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI Maruarar Sirait mengapresiasi capaian BRI yang telah melampaui plafon awal tahun ini. Dalam pertemuan dengan Direktur Utama BRI Hery Gunardi di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (25/5/2026), ia mengungkapkan bahwa kuota Rp8 triliun telah terserap habis sejak awal Mei.
“BRI telah menambah kuota yang tadinya Rp8 triliun tahun ini menjadi Rp12 triliun. Kenapa? Karena Rp8 triliun sudah terserap semua. Sekarang sudah Rp9,2 triliun. Bahkan sejak April atau awal Mei 2026, BRI sudah melampaui plafon awal Rp8 triliun. Jadi terima kasih, kinerjanya BRI luar biasa,” ujar Maruarar.
Dari total Rp9,21 triliun yang disalurkan BRI, pembiayaan sisi permintaan (demand) mencapai Rp8,10 triliun untuk 65.576 debitur. Sementara itu, pembiayaan sisi pasokan (supply) tercatat Rp1,10 triliun kepada 752 debitur. Secara nasional, realisasi KPP sisi demand mencapai Rp11,99 triliun untuk 78.001 debitur, dan sisi supply Rp4,87 triliun untuk 1.875 debitur.
BRI gencar melakukan sosialisasi program di berbagai wilayah. Realisasi terbesar terjadi di Sorong, Papua Barat Daya dengan 610 debitur senilai Rp258,9 miliar, disusul Majalengka, Jawa Barat sebanyak 499 debitur senilai Rp151,98 miliar, Tangerang, Banten sebanyak 255 debitur senilai Rp202,4 miliar, dan Pontianak, Kalimantan Barat sebanyak 130 debitur dengan nilai Rp59,23 miliar.
Selain KPP, BRI juga memperkuat penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk rumah subsidi. Sepanjang 2025, perseroan merealisasikan 32.206 unit atau 97,5 persen dari target 33.000 unit. Pada 2026, target FLPP BRI melonjak 81,8 persen menjadi 60.000 unit. Hingga 25 Mei 2026, realisasi akad FLPP telah mencapai 12.500 unit.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa jaringan layanan yang luas menjadi kunci pemerataan akses. “BRI memiliki jaringan luas di seluruh Indonesia, dengan lebih dari 7.500 titik layanan yang terdiri atas kantor cabang dan unit kerja. Dengan jaringan tersebut, program ini dapat dijalankan secara merata sejalan dengan sebaran layanan BRI di berbagai daerah,” ujar Hery.
Ke depan, BRI menyatakan kesiapan mendukung skema pembiayaan perumahan yang tengah didorong pemerintah, termasuk opsi tenor lebih panjang hingga 40 tahun. Langkah ini diharapkan menghadirkan cicilan yang lebih ringan bagi masyarakat berpenghasilan rendah tanpa mengabaikan prinsip prudential banking dan manajemen risiko yang terukur. Komitmen ini sejalan dengan upaya BRI memperluas akses hunian layak dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di berbagai daerah.