Irak Kunci Tiket Piala Dunia 2026: Dari Perang, Penalti Dramatis, hingga Gol Sejarah di Menit Akhir

Penulis: Said Fauzi  •  Minggu, 07 Juni 2026 | 07:36:01 WIB
Irak meraih tiket Piala Dunia 2026 melalui penalti dramatis di waktu tambahan.

SUMATERA UTARA — Perjalanan Singa Mesopotamia dimulai dari titik nadir. Setelah kalah 2-1 dari Palestina dan kehilangan poin krusial di dua laga berikutnya, pelatih Jesús Casas dipecat. Graham Arnold, yang mundur sebagai pelatih Australia setelah Piala Dunia 2022, masuk dengan satu kata di papan tulis: "percaya."

Dari Krisis Moral ke Keyakinan di Basra

Arnold, pelatih Australia pertama yang membawa dua negara berbeda ke Piala Dunia, mengubah formasi menjadi 4-4-2 dengan dua striker murni. Disiplin tim dan perubahan pola pikir menjadi prioritas. Momen kepercayaan nasional muncul pada November 2024 di Basra.

Saat laga melawan Uni Emirat Arab imbang 1-1 di waktu tambahan, wasit menunjuk titik putih setelah tinjauan VAR. Amir Al-Ammari, algojo penalti Irak, melihat kiper UAE kerap bergerak cepat. Ia menunggu hingga detik terakhir, lalu menempatkan bola ke kanan gawang. Gol itu membawa Irak ke playoff antarkonferensi.

Perang, Perjalanan 29 Jam, dan Gol Sejarah

Kualifikasi Irak nyaris gagal karena perang di Timur Tengah. Wilayah udara ditutup, penerbangan dibatalkan. Arnold, terjebak di hotel di Uni Emirat Arab, mendesak FIFA menunda pertandingan. Situasi membaik: skuad Irak menempuh perjalanan darat 12 jam dari Baghdad ke Amman, lalu terbang 17 jam ke Meksiko—tiba 10 hari sebelum laga final.

"Lakukan untuk keluarga kalian dan buat diri kalian bangga," kata Arnold kepada para pemain. Irak unggul di menit ke-10, Bolivia menyamakan skor, sebelum Aymen Hussein memastikan kemenangan di babak kedua. "Para pemain melalui tekanan luar biasa dari 46 juta rakyat Irak," ujar Arnold. "Setiap pertandingan adalah patah hati atau bertahan hidup."

Aymen Hussein: Dari Bulan-Bulanan ke Pahlawan Nasional

Striker pencetak gol penentu itu sebelumnya menjadi sasaran ejekan. Ia pernah dibandingkan dengan papan kayu yang tak bergerak, diejek karena gaya rambutnya, dan menjadi bahan olok-olok komedian politik. Dalam satu pertandingan, pelatihnya bahkan naik ke lapangan untuk melarangnya mengambil penalti.

Hussein kehilangan ayah dan saudara laki-lakinya dalam kekacauan pasca-invasi AS 2003. Setelah golnya di Monterrey, ia menerima paspor diplomatik, tiga mobil Chevrolet Tahoe 2026, sebuah vila dan apartemen, iPhone 17 Pro Max emas 21 karat, serta sebidang tanah 200 meter persegi. Kini ia masuk lima besar pencetak gol sepanjang masa Irak dan pemain dengan bayaran tertinggi di Liga Irak bersama Al-Karma.

Grup Neraka Tanpa Beban: "Kami Akan Bermain Tanpa Rasa Takut"

Di Piala Dunia, Irak tergabung di Grup D bersama Prancis, Norwegia, dan Senegal. Arnold menyebutnya "grup kegembiraan" ketimbang grup kematian. "Semua tekanan ada di Prancis untuk menang, tekanan di Norwegia dan Senegal untuk lolos—tekanan tidak ada di Irak," kata Arnold. "Kami tidak akan rugi apa-apa. Kami akan bermain tanpa rasa takut, mengejutkan dunia, dan menikmatinya."

Marko Farji, Bakat Muda yang Pernah Ditawar Klub Premier League

Satu nama yang patut diwaspadai adalah Marko Farji. Pemain yang lahir di Grimstad, Norwegia ini sejak usia lima tahun sudah menarik perhatian Aston Villa, Liverpool, dan Manchester City. Ia sempat menjalani trial di City, meski dianggap belum cukup kuat secara fisik. Video latihannya di masa kecil—menggiring bola melewati pemain lawan—masih beredar luas di media sosial.

Reporter: Said Fauzi
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top