SUMATERA UTARA — Tanah longsor terjadi sekitar pukul 23.00 waktu setempat, mengejutkan warga yang tengah tidur. Suara keras dari tepi sungai membangunkan banyak rumah tangga di Dusun My Thoi 2.
Tran Van Dung, warga setempat, kehilangan lebih dari 10 meter tebing sungai yang membentang sekitar 30 meter. Sebanyak 7-8 pohon jeruk bali berusia di atas 10 tahun dan pohon durian yang sedang berbuah ikut tersapu ke sungai. "Saya sedang tidur ketika mendengar suara yang sangat keras dan berlari keluar. Seluruh deretan pohon buah-buahan telah tersapu," kata Dung.
Kekhawatiran terbesar bukan hanya kerugian ekonomi. Warga cemas longsor susulan akan merusak tanggul utama dan jalan di kawasan tersebut. "Saya tidak bisa tidur beberapa malam terakhir. Jika air membanjiri kebun, saya tidak tahu apa yang akan kami lakukan," ujar Dung.
Menurut Nguyen Hoang Dung, Wakil Sekretaris Cabang Partai Dusun My Thoi 2, dasar jalan di lokasi longsor telah terkikis parah. Hanya lapisan pasir tipis tersisa di banyak titik. Pihak berwenang setempat telah memasang rambu peringatan, menutup area berbahaya, dan melakukan penguatan sementara pada beberapa bagian tanggul.
Longsor juga mengganggu transportasi warga yang menyeberang menggunakan feri penghubung Kelurahan Cai Von dengan daerah sekitarnya. Nguyen Chi Hai, pengemudi feri dengan pengalaman lebih dari 10 tahun, mengatakan sebuah jembatan baru yang dibangun beberapa bulan lalu sudah runtuh dan rusak parah. "Jalan menuju terminal feri seringkali perlu ditutup dengan batu agar warga dan pekerja bisa melewatinya," kata Hai.
Menurut Hai, penyeberangan feri hanya memakan waktu 4-5 menit. Jika harus mengambil rute lain, waktu tempuh berkali-kali lipat lebih lama. Para pekerja di kawasan itu masih bergantung pada feri karena dianggap paling nyaman. Jika terminal feri berhenti beroperasi, Hai sendiri akan kehilangan pekerjaan.
Pham Minh Thuan, Kepala Dinas Ekonomi, Infrastruktur, dan Perencanaan Kota Kelurahan Cai Von, menjelaskan bahwa wilayah My Thoi 2, khususnya bagian Con Sung yang berbatasan dengan Sungai Hau, memiliki tanah lemah dan kerap terpengaruh aliran sungai. Risiko longsor di daerah itu tergolong tinggi.
Untuk sementara, pemerintah daerah hanya bisa melakukan perbaikan darurat seperti memperkuat tanggul dan memasang rambu peringatan. "Longsor telah melampaui kemampuan keuangan pemerintah daerah. Saat ini, hanya penguatan sementara yang mungkin dilakukan," kata Thuan.
Pihak kelurahan akan terus mengajukan usulan kepada Komite Rakyat Provinsi serta Dinas Pertanian dan Lingkungan Hidup untuk mendapatkan pendanaan guna proyek perbaikan permanen. Selama proses itu berlangsung, lebih dari 100 rumah tangga di Pulau Con Sung dan lahan buah seluas 200 hektar masih berada dalam ancaman longsor susulan.