Yield Obligasi AS Tembus Rekor 19 Tahun, Wall Street Terkoreksi Tiga Hari Beruntun

Penulis: Tengku Syafri  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:49:31 WIB
Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatat penurunan tiga hari beruntun seiring yield obligasi AS bertenor 30 tahun menembus level tertinggi sejak 2006.

SUMATERA UTARA — Koreksi di bursa Amerika Serikat terjadi di tengah melonjaknya imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS bertenor 30 tahun yang menembus level tertinggi sejak 2006. Kondisi serupa juga terjadi di kawasan lain, di mana yield obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun mencapai rekor tertinggi dalam tiga dekade, sementara yield obligasi Jerman dan Prancis bertenor 30 tahun masing-masing mencatat level tertinggi sejak 2011 dan 2008.

Data perdagangan menunjukkan S&P 500 tergelincir 0,69% ke level 7.691,76, menandai penurunan tiga sesi beruntun. Nasdaq Composite menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 1,33% ke posisi 26.289,71. Dow Jones Industrial Average relatif lebih tahan, hanya melemah 116,38 poin atau 0,22% ke level 53.343,40.

Kenaikan Yield Obligasi dan Harga Minyak Jadi Biang Kerok

Manajer portofolio di Logan Capital Management, Bill Fitzpatrick, menilai pasar selama ini terlalu fokus pada kinerja laba perusahaan yang solid dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), sehingga mengabaikan tekanan dari sisi imbal hasil obligasi. Menurutnya, kondisi ini membuat pasar semakin rentan terhadap aksi jual dalam waktu dekat.

"Faktor-faktor yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi kemungkinan tidak akan mereda dalam waktu dekat," ujar Fitzpatrick dikutip dari CNBC, Rabu (19/8).

Tekanan tambahan datang dari harga minyak mentah yang kembali menguat. Kontrak berjangka minyak mentah AS naik 0,5% menjadi US$ 84,94 per barel, setelah Presiden Donald Trump membantah adanya pembicaraan dengan Iran. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menegaskan AS tidak memiliki agenda perundingan dengan Iran dan blokade angkatan laut terhadap negara tersebut tetap berlaku penuh.

Harapan Gencatan Senjata Timur Tengah Kembali Memudar

Pernyataan Trump tersebut memupus harapan pasar akan meredanya konflik Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan harga minyak. Sehari sebelumnya, Trump sempat menyatakan AS akan menyerang Oman jika negara itu menghalangi upaya Washington untuk bernegosiasi dengan Iran.

Kombinasi antara yield obligasi yang tinggi dan harga energi yang mahal menciptakan tekanan ganda bagi valuasi saham. Yield obligasi yang tinggi membuat aset berisiko seperti saham menjadi kurang menarik, sementara harga minyak yang bertahan tinggi berpotensi mengerek biaya operasional perusahaan dan menahan laju disinflasi.

Investor kini menanti data inflasi dan kebijakan moneter The Fed selanjutnya untuk mencari arah pergerakan pasar. Jika yield obligasi terus merangkak naik, koreksi di Wall Street berpotensi berlanjut dan berimbas pada sentimen pasar global, termasuk Asia.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Tengku Syafri
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top