DELI SERDANG — Dua unit bus listrik mulai melayani penumpang di kawasan Mebidang, Sumatera Utara, Rabu. Tahap uji coba ini menjadi bagian dari proyek BRT senilai Rp1,9 triliun yang didanai Bank Dunia dan AFD Prancis, sekaligus jawaban pemerintah atas tingkat kemacetan Kota Medan yang mencapai 54,2 persen berdasarkan TomTom Traffic Index.
Direktur Angkutan Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub, Muiz Thohiro, menyebut kehadiran BRT ini sebagai upaya membangun sistem transportasi perkotaan yang lebih modern dan terintegrasi. Proyek ini juga masuk dalam prioritas nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, di mana kawasan Medan menjadi salah satu dari 20 kota prioritas.
BRT Mebidang dirancang melintasi jalur sepanjang 21 kilometer yang terhubung dengan 31 halte. Pada operasi penuh nanti, sebanyak 30 bus listrik akan dikerahkan dengan rincian 14 unit untuk Koridor 11 (Teladan-Terminal Lubukpakam), 13 unit untuk Koridor 12 (Simpang Barat-Binjai), dan tiga unit armada cadangan.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumut, Yuda Pratiwi Setiawan, mengatakan peluncuran bus listrik ini merupakan wujud komitmen pemerintah provinsi meningkatkan konektivitas. Layanan ini diharapkan mengurangi ketergantungan warga pada kendaraan pribadi sekaligus menekan konsumsi energi dan emisi karbon.
Setelah masa uji coba berakhir, tarif yang direncanakan sebesar Rp4.300 untuk penumpang umum. Sementara kategori khusus seperti pelajar, penyandang disabilitas, dan lanjut usia cukup membayar Rp3.000.
"Selama masa uji coba, masyarakat bisa menggunakan layanan BRT listrik ini secara gratis," kata Yuda. Tahap ini dimanfaatkan untuk mengevaluasi kondisi teknis, waktu tempuh, dan memberikan edukasi kepada masyarakat Sumatera Utara.
Muiz menambahkan, pembangunan BRT bukan semata proses fisik, melainkan investasi bagi kualitas hidup masyarakat dan produktivitas ekonomi. "Ada investasi bagi kualitas hidup masyarakat, produktivitas ekonomi, serta masa depan yang lebih hijau," ujarnya.
Kemenhub sebelumnya memilih Medan bersama Bandung Raya sebagai proyek percontohan BRT yang didukung Bank Dunia. Pemilihan ini mempertimbangkan tingkat kepadatan lalu lintas yang tinggi di kedua kawasan perkotaan tersebut.