SUMATERA UTARA — Arsenal tidak sedang bersiap mempertahankan gelar. Mereka datang untuk menyerang gelar berikutnya. Pernyataan Mikel Arteta itu bukan sekadar permainan kata, melainkan sinyal keseriusan klub dalam membangun dinasti di puncak sepak bola Inggris.
Kehadiran anjing bernama Win di tempat latihan Arsenal beberapa tahun lalu kini terasa prescient. Sang manajer lebih suka menyebut "konsistensi" ketimbang "stabilitas" ketika menggambarkan kondisi timnya. Baginya, kedua kata itu punya makna yang berbeda jauh.
Dari semua kandidat perebut gelar, hanya Aston Villa yang memiliki manajer mapan: Unai Emery. Situasi ini membuat Arteta, yang mengambil alih kursi pelatih Arsenal dari Emery pada Desember 2019, menjadi manajer dengan masa bakti terlama di liga.
Kemenangan 1-0 atas Burnley di Emirates Stadium pada laga kedua terakhir menjadi momen paling mencekam. Ribuan suporter menahan napas, dan Arteta mengaku merasakan getaran kecemasan di seluruh stadion. Gelar yang dinanti 22 tahun akhirnya tiba, membebaskan Arsenal dari beban psikologis yang menindih.
Di lini tengah, Bruno Guimarães menjadi rekrutan paling mencolok. Bek Ezri Konsa dikabarkan menyusul. Langkah ini memperdalam skuad yang sudah padat, memberi Arteta lebih banyak opsi rotasi.
Maresca punya rekam jejak bagus bersama tim U-23 City, namun tetap saja ia mengisi posisi yang sangat besar. Elliot Anderson, gelandang muda yang diandalkan City, juga belum terbukti di panggung sebesar ini.
Arsenal, dengan fondasi kokoh dan kepercayaan diri yang sedang memuncak, melihat celah itu. Mereka tahu peluang seperti ini tidak datang dua kali.