Studi NASA: Mikrogravitasi Perlambat Pencernaan Astronaut, Ini Dampaknya bagi Misi ke Mars

Penulis: Tengku Syafri  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 17:34:01 WIB
Astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) mengalami perlambatan pencernaan akibat mikrogravitasi yang mengubah aktivitas mikroba usus.

SUMATERA UTARARiset yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications pada 29 Juni 2026 ini menjawab keluhan kronis yang selama puluhan tahun menghantui para penghuni Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Para ilmuwan menemukan bahwa kondisi tanpa gravitasi mengubah cara mikroba usus memproses nutrisi secara drastis, dengan efek yang terdeteksi hanya dalam hitungan minggu setelah lepas landas.

Mengapa Pencernaan Astronaut Melambat?

Tim peneliti menggunakan teknik metabolomik untuk mengukur molekul kecil dalam darah. Hasilnya, sekitar 40 senyawa berubah signifikan selama penerbangan, termasuk metabolit hasil fermentasi protein oleh bakteri di usus besar.

"Kami mengamati perubahan yang mengindikasikan bakteri usus mulai memfermentasi protein dalam jumlah lebih tinggi dari biasanya, hanya dalam hitungan minggu setelah astronaut tiba di luar angkasa," ujar Giorgia La Barbera, penulis utama penelitian, melansir Space, Selasa (18/8).

Dampak pada Tubuh dan Misi Antariksa

Normalnya, bakteri usus memfermentasi serat dan karbohidrat untuk energi. Saat pencernaan melambat, pasokan karbohidrat habis, sehingga mikroba beralih memecah protein dan menghasilkan metabolit berbeda yang masuk ke aliran darah.

Henrik Roager, salah satu penulis studi, menjelaskan bahwa kurangnya gravitasi membuat makanan bergerak lebih lambat di usus. Kondisi ini memicu peningkatan fermentasi protein yang menjadi akar masalah sembelit.

Perubahan metabolik ini muncul cepat dan sebagian besar mereda beberapa hari setelah astronaut kembali ke Bumi. Faktor pola makan seperti kafein, ikan, dan lemak hanya menyumbang kurang dari sebagian perubahan tersebut, membuktikan bahwa gravitasi adalah variabel utamanya.

Strategi Pola Makan untuk Misi ke Bulan dan Mars

Peningkatan fermentasi protein tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi juga menghasilkan senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida yang berpotensi membahayakan kesehatan. Beberapa metabolit terkait proses ini juga dihubungkan dengan efek negatif jangka panjang.

Para peneliti merekomendasikan solusi sederhana: menambah asupan serat dan meningkatkan konsumsi karbohidrat yang terfermentasi secara perlahan. Strategi ini diharapkan menjaga mikroba usus tetap memiliki cukup karbohidrat, mengurangi ketergantungan pada fermentasi protein.

Temuan ini menjadi krusial mengingat rencana misi berawak ke Bulan dan Mars yang membutuhkan waktu tempuh berbulan-bulan. Data dari 52 astronaut yang bertugas antara 2006 dan 2018 ini memberikan peta jalan bagi pengembangan menu antariksa generasi berikutnya, sekaligus membuka wawasan baru tentang gangguan pencernaan di Bumi.

Reporter: Tengku Syafri
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top