SUMATERA UTARA — Riset yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications pada 29 Juni 2026 ini menjawab keluhan kronis yang selama puluhan tahun menghantui para penghuni Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Para ilmuwan menemukan bahwa kondisi tanpa gravitasi mengubah cara mikroba usus memproses nutrisi secara drastis, dengan efek yang terdeteksi hanya dalam hitungan minggu setelah lepas landas.
Tim peneliti menggunakan teknik metabolomik untuk mengukur molekul kecil dalam darah. Hasilnya, sekitar 40 senyawa berubah signifikan selama penerbangan, termasuk metabolit hasil fermentasi protein oleh bakteri di usus besar.
"Kami mengamati perubahan yang mengindikasikan bakteri usus mulai memfermentasi protein dalam jumlah lebih tinggi dari biasanya, hanya dalam hitungan minggu setelah astronaut tiba di luar angkasa," ujar Giorgia La Barbera, penulis utama penelitian, melansir Space, Selasa (18/8).
Normalnya, bakteri usus memfermentasi serat dan karbohidrat untuk energi. Saat pencernaan melambat, pasokan karbohidrat habis, sehingga mikroba beralih memecah protein dan menghasilkan metabolit berbeda yang masuk ke aliran darah.
Henrik Roager, salah satu penulis studi, menjelaskan bahwa kurangnya gravitasi membuat makanan bergerak lebih lambat di usus. Kondisi ini memicu peningkatan fermentasi protein yang menjadi akar masalah sembelit.
Perubahan metabolik ini muncul cepat dan sebagian besar mereda beberapa hari setelah astronaut kembali ke Bumi. Faktor pola makan seperti kafein, ikan, dan lemak hanya menyumbang kurang dari sebagian perubahan tersebut, membuktikan bahwa gravitasi adalah variabel utamanya.
Peningkatan fermentasi protein tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi juga menghasilkan senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida yang berpotensi membahayakan kesehatan. Beberapa metabolit terkait proses ini juga dihubungkan dengan efek negatif jangka panjang.
Para peneliti merekomendasikan solusi sederhana: menambah asupan serat dan meningkatkan konsumsi karbohidrat yang terfermentasi secara perlahan. Strategi ini diharapkan menjaga mikroba usus tetap memiliki cukup karbohidrat, mengurangi ketergantungan pada fermentasi protein.
Temuan ini menjadi krusial mengingat rencana misi berawak ke Bulan dan Mars yang membutuhkan waktu tempuh berbulan-bulan. Data dari 52 astronaut yang bertugas antara 2006 dan 2018 ini memberikan peta jalan bagi pengembangan menu antariksa generasi berikutnya, sekaligus membuka wawasan baru tentang gangguan pencernaan di Bumi.