SUMATERA UTARA — Castlevania: Belmont's Curse resmi dirilis 15 Oktober 2026 untuk PS5, Xbox Series X|S, Nintendo Switch 2, dan PC. Game 2D action-platformer pertama Konami setelah lebih dari satu dekade ini dikembangkan Evil Empire, studio di balik Dead Cells. Hasilnya bukan blockbuster besar, tapi platformer klasik yang solid dan layak dicoba penggemar Metroidvania.
Rose Belmont, putri Trevor Belmont dan Sypha Belnades, menjadi protagonis utama dengan misi menghentikan ancaman yang membanjiri Paris. Kisahnya berjalan sebagai semacam sekuel dari Castlevania 3: Dracula's Curse sekaligus adaptasi animasi Netflix. Alur ceritanya punya beberapa twist dan momen kuat, meski terasa agak jarang di antara adegan sinematik.
Dari sisi durasi, satu kali tuntas sekitar 16 jam sudah cukup untuk melihat sebagian besar peta, bos, dan rahasia. Angka itu menempatkan Belmont's Curse di kelas menengah untuk ukuran Metroidvania, tidak sepanjang Hollow Knight, tapi jauh lebih padat dari rilisan pendek bergaya retro.
Pertempuran mengandalkan berbagai jenis senjata, mulai dari cambuk ikonik Vampire Killer hingga gauntlet dan tombak. Setiap senjata punya karakter berbeda, cambuk unggul untuk serangan jarak jauh dengan damage besar, sementara tombak jadi alternatif yang tak kalah efektif.
Kemampuan khusus Rose terbuka setelah mengalahkan bos tertentu. Dari situ pemain mendapat serangan tambahan seperti salib lempar dan pilar api. Kombinasi senjata dan kemampuan ini membuat gaya bertarung bisa disesuaikan dengan selera masing-masing.
Level dirancang dengan jebakan dan platforming yang menuntut presisi serta refleks cepat. Perjalanan Rose tidak berhenti di Paris, tapi melebar ke sejumlah wilayah lain dengan tema dan gimmick berbeda. Setiap area punya identitas kuat, baik saat dimainkan maupun ketika ditelusuri ulang.
Backtracking tetap jadi bagian inti permainan. Berkat kemampuan seperti air dash dan cambuk grappling hook, pemain bisa kembali ke lokasi lama dengan cepat untuk memburu rahasia dan petunjuk. Proses ini terasa memuaskan, walau bisa menjengkelkan kalau terlalu sering bolak-balik.
Belmont's Curse memadukan elemen 2D dan 3D dengan gaya visual mirip Dead Cells. Siluet karakter bergaya gambar tangan tetap dipakai untuk dialog, sementara cutscene dalam game dirender penuh 3D. Perubahan ini meninggalkan tekstur piksel khas Symphony of the Night, tapi tetap menyatu dengan identitas seri.
Frame rate jarang terganggu sepanjang pengujian. Stutter sesekali muncul saat layar dipenuhi monster, tapi tidak sering. Masalah lebih terasa di sisi audio, suara kadang terputus dan restart setiap transisi level. Bug gameplay seperti musuh yang tembus pandang juga sesekali terjadi.
Seri Castlevania memang dikenal brutal, dan Belmont's Curse tidak melunak. Kematian bisa mengembalikan pemain jauh ke belakang dan menghapus banyak progres. Bos akhir permainan termasuk yang paling menyiksa, meski mengalahkannya memberi kepuasan tersendiri.
Fitur aksesibilitas tersedia untuk meredam kesulitan, termasuk opsi outline lebih tebal, mode buta warna, subtitle multi-bahasa, dan voice-over. Meski begitu, beberapa elemen seperti jebakan one-hit-kill tetap ada dan bisa memicu frustrasi.
Castlevania: Belmont's Curse dijual untuk PS5, Xbox Series X|S, Nintendo Switch 2, dan PC sejak 15 Oktober 2026. Evil Empire dan Konami belum mengumumkan harga resmi di pasar Indonesia, jadi calon pembeli sebaiknya memantau kanal distribusi digital masing-masing platform.
Sebagai entri 2D pertama setelah lebih dari satu dekade, Belmont's Curse bukan lompatan besar. Evil Empire memilih pendekatan aman dengan formula klasik yang sudah terbukti, lalu menyempurnakannya lewat desain level dan sistem tempur. Hasilnya lebih dekat ke penghormatan pada masa kejayaan seri ketimbang upaya mendobrak batas baru.
Game ini paling cocok untuk penggemar berat Metroidvania yang menikmati platforming presisi dan tantangan tinggi. Pemain yang mencari pengalaman santai sebaiknya berpikir dua kali, karena Belmont's Curse tidak menggandeng tangan dan menghukum setiap kesalahan dengan keras.