Sebanyak 39 tokoh olahraga dan seni, termasuk mantan pelatih Brian Kerr, mendesak Federasi Sepak Bola Irlandia (FAI) memboikot laga Nations League melawan Israel. Aksi ini merupakan bagian dari kampanye "Stop The Game" sebagai bentuk protes atas krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina.
Gelombang protes melanda sepak bola Irlandia menjelang pertemuan tim nasional mereka dengan Israel di ajang Nations League. Kelompok penekan Irish Sport For Palestine meluncurkan kampanye bertajuk 'Stop The Game' yang menuntut pembatalan laga tandang pada 27 September serta laga kandang di Dublin tujuh hari kemudian.
Mantan manajer Republik Irlandia, Brian Kerr, memimpin daftar 39 penandatangan surat terbuka yang ditujukan kepada FAI. Mereka menilai pertandingan tersebut tidak layak digelar di tengah situasi konflik. Kelompok ini menuding adanya pelanggaran serius terhadap statuta UEFA dan FIFA terkait tim Israel yang bermain di wilayah pendudukan, serta menyoroti sistem apartheid di sana.
Prioritas Kemanusiaan di Atas Pertimbangan Olahraga
Kapten Shamrock Rovers, Roberto Lopes, menjadi salah satu suara paling vokal dalam gerakan ini. Pemain yang dijadwalkan membela Tanjung Verde di Piala Dunia mendatang tersebut menegaskan bahwa pesepak bola tidak boleh menutup mata terhadap hilangnya nyawa manusia di Palestina.
"Kita harus menghentikan pertandingan ini. Sebagai pemain dan penggemar, insting alami kita adalah turun ke lapangan dan berkompetisi, tetapi ini adalah momen di mana kita perlu melihat gambaran yang lebih besar," tulis Lopes dalam pernyataannya.
"Kita tidak bisa mengabaikan bencana kemanusiaan di Palestina; hilangnya nyawa di sana harus diprioritaskan di atas pertimbangan olahraga apa pun. Irlandia memiliki kesempatan untuk memimpin, menjadi pionir, dan melakukan apa yang tidak dilakukan orang lain. Kita harus cukup berani untuk mengatakan bahwa ini sudah cukup," tegas Lopes.
Mandat 93 Persen Anggota FAI untuk Skorsing Israel
Surat terbuka tersebut juga mengingatkan FAI pada hasil pemungutan suara anggota mereka pada November 2023. Saat itu, 93 persen anggota FAI menginstruksikan asosiasi untuk mendesak UEFA agar menangguhkan keanggotaan Israel.
Mosi tersebut didasarkan pada dugaan bahwa Federasi Sepak Bola Israel (IFA) melanggar aturan UEFA karena gagal menerapkan kebijakan anti-rasisme yang efektif. Selain itu, IFA dianggap mengorganisir klub-klub di pemukiman ilegal Tepi Barat tanpa persetujuan dari Asosiasi Sepak Bola Palestina.
"Sangat tidak terbayangkan jika kita bersedia diam dan memberikan perlindungan atas kejahatan semacam itu atas nama sepak bola. Kami mendesak Anda untuk memastikan tim sepak bola Irlandia tidak digunakan untuk menutupi pelanggaran aturan UEFA, apartheid, dan kejahatan perang," bunyi petikan surat terbuka tersebut.
Risiko Sanksi Berat dan Posisi Federasi
Meski tekanan publik menguat, FAI sebelumnya telah memberikan sinyal akan tetap melaksanakan pertandingan sesuai jadwal. Pada Februari lalu, federasi menyatakan bahwa penolakan untuk bertanding akan berujung pada konsekuensi berat bagi sepak bola Irlandia secara keseluruhan.
FAI mengonfirmasi bahwa jika mereka memboikot laga, tim nasional Irlandia terancam dinyatakan kalah WO (forfeit) dan menghadapi tindakan disipliner lanjutan dari UEFA. Sanksi tersebut bahkan bisa mencakup diskualifikasi total dari kompetisi internasional.
Situasi di Gaza sendiri terus memburuk sejak serangan 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel selatan. Sebagai respons, kampanye militer Israel di Gaza telah mengakibatkan lebih dari 72.500 orang tewas, menurut data Kementerian Kesehatan setempat. Israel sendiri secara konsisten membantah tuduhan genosida dan menyatakan tindakan mereka adalah bentuk pertahanan diri.
Selain Brian Kerr dan Roberto Lopes, surat terbuka ini didukung oleh deretan atlet seperti Louise Quinn dan Hedvig Lindahl. Dari industri musik, nama-nama besar seperti Paul Weller, Tom Morello, hingga grup Fontaines DC turut membubuhkan tanda tangan mereka dalam gerakan boikot ini.