Agung Danarto mengingatkan bahwa setiap penyelenggaraan muktamar Muhammadiyah selalu meninggalkan jejak monumental yang bermanfaat bagi masyarakat. Sejak Muktamar ke-45 di Malang pada 2005, organisasi ini konsisten membangun ikon kebanggaan yang kini menjadi landmark di berbagai daerah.
Dari Dome UMM hingga Auditorium Berkemajuan UMSU
Agung merinci deretan monumen yang lahir dari setiap muktamar. “Muktamar 45 di Malang meninggalkan Dome UMM, Muktamar 46 di Yogyakarta melahirkan Sportorium UMY, Muktamar 47 di Makassar menghadirkan Menara Iqra’ Unismuh Makassar, dan Muktamar 48 di Surakarta membangun Edutorium UMS,” paparnya.
Untuk Muktamar 49 yang akan datang, monumen yang akan menjadi kebanggaan adalah Auditorium Berkemajuan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Agung berharap bangunan ini tidak hanya dikenang sebagai struktur beton, tetapi juga sebagai simbol percepatan peradaban di Sumut.
Momentum Mengerek Ekonomi Warga
Lebih dari sekadar seremonial, Agung menekankan dampak ekonomi yang ditargetkan dari gelaran akbar ini. Kehadiran ribuan peserta, penggembira, dan anggota muktamar diproyeksikan memacu perputaran uang di sektor UMKM, perhotelan, dan transportasi lokal.
“Agar ketika pas muktamar itu ghirah bermuhammadiyahnya sedang tinggi-tingginya. Termasuk ada monumen-monumen yang akan dikenang dari muktamar itu,” ungkap Agung di hadapan peserta Darul Arqam.
Ia meminta seluruh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) di Sumut untuk mempersiapkan kader melalui program Baitul Arqam. Langkah ini dinilai krusial agar semangat organisasi tetap membara saat puncak acara nanti.
Jaminan Akomodasi: Wisata Simalungun untuk Penggembira
Sementara itu, Ketua PWM Sumut, Hasyimsyah Nasution, memberikan sinyal positif bagi para tamu yang akan datang. Ia memastikan bahwa para penggembira tidak perlu khawatir soal tempat rekreasi selama berada di Sumut.
“Nanti bisa rekreasinya ke Simalungun,” kata Prof. Hasyimsyah Nasution, merujuk pada potensi wisata alam dan budaya di kabupaten tersebut yang siap menyambut kedatangan ribuan warga Muhammadiyah.