Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FEB UMSU) resmi menjalin kemitraan dengan 100 pelaku UMKM di Sumatera Utara melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) di Auditorium Kampus Jalan Muchtar Basri No.3 Medan, Kamis (27/8). Kerja sama ini bertujuan membangun ekosistem baru yang mempertemukan pelaku usaha dengan akademisi, perbankan, dan pemerintah daerah.
MEDAN — Ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dari lima kabupaten/kota di Sumatera Utara kini tergabung dalam satu payung kolaborasi dengan FEB UMSU. Mereka berasal dari Kota Medan, Binjai, Langkat, Deli Serdang, hingga Serdang Bedagai.
Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, M.Pd. menyebut tingginya animo pelaku UMKM terlihat dari lima kali pameran yang digelar di lingkungan kampus. Ia menilai sektor ini merupakan kekuatan ekonomi rakyat yang akan sangat diperhitungkan ke depan.
"Minat UMKM tinggi. Ada lima kali pameran di UMSU. Ke depan harus kita hadapi tantangan UMKM. Kami lihat UMKM ini satu kekuatan ekonomi rakyat. UMKM ini akan menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan," ujarnya dalam sambutan.
UMSU Siap Bangun Aplikasi Khusus UMKM
Transformasi digital menjadi tantangan utama yang dihadapi pelaku UMKM. Produk-produk lokal dinilai harus segera masuk ke ekosistem digital agar tidak tertinggal dalam persaingan pasar yang semakin berkembang.
"Produk Bapak Ibu harus sudah masuk di dunia digital karena kalau tidak akan ketinggalan. Harus ada teknologi yang hadir untuk menyatukan tanpa harus membayar. Insyaallah UMSU siap membuat aplikasi dan mengundang masing-masing UMKM," kata Prof. Akrim.
Aplikasi tersebut nantinya diharapkan mempermudah kampus dalam menghimpun, memperkuat, dan memberdayakan pelaku usaha. Rektor juga berharap UMKM yang telah dibina UMSU dapat disatukan dalam ekosistem yang lebih kuat agar produknya semakin dikenal dan punya akses pasar lebih luas.
Menjawab Lesunya Pertumbuhan Ekonomi
Dekan FEB Dr. Radiman, S.E., M.Si. menjelaskan kegiatan ini digelar untuk mengurai persoalan yang selama ini menghambat tumbuhnya UMKM. Salah satunya belum terjadinya sinkronisasi antara pelaku usaha, praktisi, dan mitra perbankan di Kota Medan.
"Acara ini untuk membangun ekosistem baru karena banyak persoalan yang terjadi, mulai dari belum terjadinya sinkronisasi antara UMKM, praktisi dan mitra perbankan yang ada di Kota Medan. Sehingga FEB mencoba mengurai persoalan dan solusinya sehingga UMKM semakin tumbuh dan diminati," ujarnya.
Menurut Radiman, penguatan UMKM menjadi tantangan bersama di tengah kondisi pertumbuhan ekonomi yang masih lesu. Berdasarkan data BPS, dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, hanya 66 juta jiwa yang bersedia menjadi pelaku UMKM.
Enam Pemateri Bahas Pendampingan dan Akses Modal
Forum ini menghadirkan enam pemateri dari berbagai bidang, di antaranya Asisten Manajer Bank Indonesia Sumatera Utara Dedean Herawani Hasibuan, perwakilan Bank Syariah Indonesia Irfan Prisma Iskandar, dan Bank Sumut Syariah Maristika Valeri. Turut hadir Sekbid Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Sumut Dr.s Putrama Alkhairi, Yayasan Aksi Baik Binjai Sugi Hartaty, serta Owner PT Koloria Moringa Jaya Syahrani Dewi.
Para narasumber membahas pendampingan usaha, akses permodalan, hingga strategi pemasaran. Materi ini diharapkan memberikan solusi konkret atas persoalan yang selama ini dihadapi pelaku UMKM di lapangan.
Sejumlah perwakilan UMKM yang menandatangani MoA antara lain Uni Upik Rizky Ananda, Pabrik Tahu Abdul Muin, Abon Barakah Dahran, Kuprok Tahu Dedi Kurniadi, Munggah Batik Rina Wati, Sambal Asam Cikala Sugiani, dan Sambal Gundaling Imtiyaz Alnatanisa.
Radiman menegaskan forum ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia berharap ruang kolaborasi ini berkelanjutan sehingga pelaku UMKM mendapatkan pendampingan dan solusi nyata terhadap persoalan yang mereka hadapi.