El Gouna Film Festival Umumkan 5 Rising Stars Angkatan Ketiga

Penulis: Said Fauzi  •  Minggu, 18 Oktober 2026 | 19:03:01 WIB
El Gouna Film Festival mengumumkan lima sineas muda Arab sebagai Rising Stars angkatan ketiga program CineGouna Emerge.

SUMATERA UTARA — El Gouna Film Festival di Mesir mengumumkan lima talenta muda dari dunia Arab sebagai Rising Stars angkatan ketiga program CineGouna Emerge. Kelima sineas terpilih adalah Abdallah Dnewar (Mesir), Razan AlSoghayer (Arab Saudi), Omar Rammal (Palestina), Asmahan Bkerat (Palestina-Yordania), dan Rama Abdi (Suriah). Program yang diluncurkan pada 2024 ini menjadi wadah pengembangan sineas generasi baru kawasan MENA.

Direktur CineGouna Emerge & International Engagement Hayat Aljowaily menyebut kelima terpilih sudah menunjukkan karya masing-masing di industri film. Program Rising Stars sendiri merupakan bagian dari CineGouna Emerge, yang bernaung di bawah payung CineGouna industry bersama Forum talks, showcase proyek pendanaan, Market, dan fokus baru Series.

Siapa Saja Sineas Terpilih

Abdallah Dnewar berbasis di Kairo dan memproduksi animasi pendek My Brother, My Brother yang terseleksi di Rotterdam, serta Khufu yang tayang di Locarno. Ia juga menjadi konsultan naskah sejumlah film pendek dan kini menjabat Head of Specials di perusahaan media Mesir, Zest.

Di sana, Dnewar mengawal Eish Short Film Competition, kompetisi hasil kerja sama El Gouna Film Festival dengan Program Pangan Dunia PBB (WFP).

Razan AlSoghayer berbagi waktu antara Arab Saudi dan Belanda. Karya-karyanya mengangkat isu perempuan, memori, persahabatan, patriarki, dan pendewasaan di tengah masyarakat yang berubah cepat. Film pendek debutnya, Son Of Badriyah, ikut tayang di edisi El Gouna kali ini.

Omar Rammal lahir di Tepi Barat dan bergerak di antara storytelling digital serta sinema independen. Gaya visual dan ceritanya yang humanis mengumpulkan ratusan juta penayangan di platform digital.

Pada 2026, Everyday in Gaza memenangi penghargaan film dokumenter pendek terbaik di ajang David di Donatello, Italia. Film fiksi debutnya, Kentucky Gaza, menjalani premiere MENA di El Gouna setelah tampil di Kompetisi Internasional Clermont-Ferrand, Prancis. Rammal kini mengembangkan film panjang pertamanya.

Asmahan Bkerat mengeksplorasi tema pengungsian, identitas, dan warisan budaya. Film dokumenter debutnya, Concrete Land, tayang perdana di Locarno Film Festival dan meraih Insights Audience Award di VIFF Vancouver.

Concrete Land baru saja diputar dengan tiket habis di BFI London Film Festival dan melanjutkan tur festival ke Dok Leipzig, IDFA, serta Doha. Bkerat sedang memproduksi dokumenter If These Stones Could Talk dan Landwards, plus tahap awal produksi film panjang garapannya.

Rama Abdi yang berbasis di Damaskus memulai perjalanan film pada 2018 sebagai juru kamera dan sutradara di produksi komersial, jurnalistik, hingga sinematik. Film pendek pertamanya, Fish Dance, dirilis pada 2022. Kini ia menggarap dokumenter panjang debut House Number 7 yang dipresentasikan di showcase proyek pendanaan CineGouna.

Bekal untuk Para Rising Stars

Lewat program ini, kelima sineas akan bertemu para pemimpin industri dan terlibat dalam aktivitas utama festival, mulai dari diskusi panel, sesi media, hingga karpet merah. Kurasi pengalaman itu dirancang memberi mereka visibilitas atas karya yang sudah dihasilkan.

"What we offer them is not a beginning, but a moment of recognition: a chance to be seen, to be heard, and to find one another," ujar Aljowaily.

"Our role is simply to bring them into the same room, and into the light, at a moment when their work is ready to be seen."

Co-Founder dan Executive Director El Gouna Film Festival Amr Mansi menekankan pentingnya cerita dari kawasan ini dibagikan ke dunia. Ia yakin para peserta akan menjadi suara dominan dalam menyampaikan kisah-kisah tersebut.

Direktur Artistik El Gouna Film Festival Andrew Mohsen menyoroti bahwa para peserta terintegrasi penuh dengan program festival. Sebagian dari mereka datang membawa proyek yang dipitching di CineGouna Funding, atau film yang berkompetisi di seleksi resmi.

"What makes Rising Stars meaningful is that it does not stand apart from the rest of the festival," kata Mohsen.

Program ini disebutnya mengakui talenta yang sudah menjadi bagian dari investasi festival, dan yang karyanya dipantau tumbuh dari edisi ke edisi.

Posisi di Kalender Industri

El Gouna Film Festival memakai Rising Stars sebagai jalur kaderisasi sineas MENA, bukan sekadar ajang pelengkap. Bagi industri film Indonesia, model serupa relevan sebagai pembanding: program inkubasi yang menyambungkan talenta baru dengan pasar, pendanaan, dan jaringan festival internasional dalam satu ekosistem.

Reporter: Said Fauzi
Sumber: deadline.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top