PLN Enjiniring memaparkan peran strategis Battery Energy Storage Systems (BESS) dalam ajang TransTech ASEAN 2026 di ICE BSD City. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen anak usaha PLN tersebut untuk mempercepat integrasi energi baru terbarukan di Indonesia. Direktur Utama PLN Enjiniring Chairani Rachmatullah menegaskan kesiapan perusahaan menghadirkan solusi enjiniring yang adaptif bagi sistem kelistrikan masa depan.
Anak usaha PT PLN (Persero), PLN Enjiniring, mempertegas posisinya sebagai motor inovasi teknologi ketenagalistrikan nasional. Dalam forum internasional TransTech ASEAN 2026, perusahaan memamerkan kesiapan infrastruktur pendukung transisi energi. Fokus utama terletak pada implementasi sistem penyimpanan energi baterai guna menjamin stabilitas pasokan listrik dari sumber terbarukan.
Vice President Power System, Digital, dan Teknologi Informasi PLN Enjiniring, Yehuda Bayu Kristiawan, menjelaskan bahwa BESS menjadi kunci dalam mengatasi intermitensi energi hijau. Teknologi ini berfungsi sebagai penyangga saat produksi listrik dari panel surya atau kincir angin fluktuatif. Kehadiran BESS memastikan jaringan tetap stabil meski beban penggunaan berubah secara mendadak.
Fungsi Strategis dan Keunggulan BESS
- Load Shifting: Memindahkan beban penggunaan listrik dari waktu puncak ke waktu rendah.
- Peak Shaving: Mengurangi tekanan pada jaringan saat permintaan listrik mencapai titik tertinggi.
- Frequency Regulation: Menjaga stabilitas frekuensi listrik agar perangkat elektronik konsumen tetap aman.
- Black Start Capability: Kemampuan memulihkan sistem kelistrikan secara mandiri saat terjadi gangguan total.
- Voltage Support: Menjaga level tegangan tetap stabil di seluruh jalur distribusi.
Penerapan teknologi ini juga memungkinkan optimalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Dengan penyimpanan baterai yang mumpuni, energi yang dihasilkan pada siang hari dapat disalurkan saat malam hari. Hal ini meningkatkan efisiensi operasional pembangkit secara signifikan.
Mendorong Inovasi Engineering Global
Direktur Utama PLN Enjiniring, Chairani Rachmatullah, menyatakan partisipasi dalam forum ASEAN ini adalah mandat korporasi. Perusahaan dituntut terus berinovasi mengikuti perkembangan teknologi energi global yang bergerak cepat. Solusi enjiniring yang dihasilkan harus mampu menjawab tantangan dekarbonisasi yang menjadi agenda utama pemerintah.
“PLN Enjiniring terus berkomitmen menghadirkan solusi engineering yang adaptif terhadap perkembangan teknologi energi global. Kehadiran kami di forum ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mendukung pengembangan sistem kelistrikan yang lebih andal, cerdas, dan berkelanjutan bagi Indonesia,” ujar Chairani.
Langkah strategis ini sejalan dengan peta jalan Kementerian BUMN dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Melalui penguasaan teknologi BESS, PLN Enjiniring tidak hanya berperan sebagai konsultan, tetapi juga integrator sistem energi modern. Fokus pada digitalisasi dan teknologi informasi menjadi pilar utama dalam menghadapi kompleksitas jaringan listrik masa depan.
Dampak bagi Layanan Publik dan Industri
Bagi masyarakat luas, penguatan sistem melalui BESS berarti peningkatan kualitas layanan listrik. Risiko pemadaman akibat ketidakstabilan beban dapat diminimalisir melalui respon cepat sistem baterai. Di sisi lain, pelaku industri mendapatkan jaminan kualitas daya (power quality) yang lebih baik untuk mendukung mesin-mesin produksi sensitif.
Integrasi BESS ke dalam jaringan nasional juga berpotensi menekan biaya operasional dalam jangka panjang. Pengurangan penggunaan pembangkit berbasis fosil untuk cadangan (spinning reserve) dapat digantikan oleh baterai yang lebih ramah lingkungan. Ini merupakan langkah konkret BUMN dalam menurunkan emisi karbon tanpa mengorbankan keandalan sistem.
Ke depan, PLN Enjiniring diproyeksikan akan memperluas implementasi BESS di berbagai proyek strategis nasional. Fokus pengembangan mencakup wilayah dengan potensi energi terbarukan tinggi serta kawasan industri hijau. Transformasi ini diharapkan mampu menarik lebih banyak investasi asing yang mensyaratkan penggunaan energi bersih dalam rantai pasok mereka.