Far Far West, game shooter kooperatif garapan studio indie Evil Raptor, berhasil menempati posisi ketiga terlaris di Steam pekan ini dengan 47.300 pemain aktif. Kesuksesan ini berbanding terbalik dengan Last Flag yang terpaksa menghentikan pengembangan konten baru akibat minimnya jumlah pemain sejak dirilis April lalu.
Dinamika industri game di Steam sepanjang awal 2026 kembali membuktikan bahwa anggaran besar bukan jaminan kesuksesan. Fenomena terbaru muncul dari studio kecil beranggotakan delapan orang asal Prancis, Evil Raptor, yang merilis Far Far West. Game bertema robot koboi ini meroket ke jajaran top seller, bersaing ketat dengan judul besar seperti Counter-Strike 2.
Far Far West mengusung mekanisme cooperative shooter yang mengingatkan pemain pada Left 4 Dead dan Vermintide. Meski statusnya masih early access, game ini mencatatkan angka 47.300 pemain konkuren pada pekan peluncurannya. Kehadiran mode single-player disinyalir menjadi salah satu faktor kuat yang menarik minat pemain yang tidak selalu ingin terhubung secara online.
Kontras Nasib Last Flag dan Tren Pasar
Kondisi berbeda dialami oleh Last Flag, game 5v5 shooter dengan elemen MOBA yang dirilis Night Street Games pada 15 April lalu. Meski mendapatkan ulasan positif dari kritikus, game ini gagal menjaring basis massa yang cukup untuk keberlanjutan proyek. Rekor pemain tertinggi Last Flag hanya menyentuh angka 558 orang, dan kini hanya menyisakan puluhan pemain aktif.
Night Street Games akhirnya mengambil keputusan pahit untuk menghentikan pengembangan konten tambahan di luar patch yang sudah direncanakan. Studio menyatakan bahwa jumlah pemain saat ini tidak mencukupi untuk mendukung biaya pengembangan lebih lanjut. Namun, mereka berkomitmen menjaga server tetap menyala agar komunitas yang tersisa tetap bisa bermain.
"Fokus kami akan beralih ke aspek replayability, dukungan komunitas, dan memberdayakan pemain untuk menulis bab selanjutnya dari Last Flag dengan lobi persisten dan aturan permainan unik," tulis perwakilan Night Street Games dalam pernyataan resminya.
Daftar Game Terlaris Steam (Periode 21 - 28 April)
Berdasarkan data pendapatan mingguan Steam, dominasi judul-judul lama masih terasa kuat, namun beberapa pendatang baru mulai merangsek masuk ke sepuluh besar. Berikut adalah daftar peringkat berdasarkan pendapatan:
- 1. Counter-Strike 2: Valve tetap kokoh di posisi puncak.
- 2. Windrose: Judul baru yang menunjukkan performa stabil.
- 3. Steam Deck: Konsol genggam Valve masih menjadi komoditas panas.
- 4. Pragmata: Judul ambisius yang akhirnya mulai membuahkan hasil.
- 5. Marvel Rivals: Game shooter superhero yang terus mendulang trafik.
- 6. Vampire Crawlers: Kejutan dari genre bullet heaven.
- 7. Crimson Desert: RPG yang sangat dinantikan pasar global.
- 8. Overwatch: Masih bertahan berkat update konten musiman.
- 9. Forza Horizon 6: Game balap andalan Microsoft yang baru dirilis.
- 10. Apex Legends: Menutup daftar sepuluh besar pekan ini.
Rilisan Indie Potensial dan Deep Cuts
Selain perebutan posisi di papan atas, pekan ini juga diramaikan oleh beberapa judul unik yang mencuri perhatian komunitas niche. Salah satunya adalah Sledding Game, sebuah game balap kereta luncur dengan fisika yang sengaja dibuat berlebihan untuk menciptakan momen komedi saat bermain bersama teman.
Ada juga Forbidden Solitaire yang mengusung tema creepypasta dengan estetika Windows 95. Bagi penggemar simulasi murni, Scooterflow hadir menawarkan simulasi skuter gaya bebas dengan tingkat kesulitan tinggi. Menariknya, taman bermain (skatepark) dalam game ini dimodelkan 1:1 berdasarkan lokasi nyata di dunia asli.
Apa Artinya bagi Gamer Indonesia?
Melejitnya Far Far West menunjukkan bahwa selera pasar saat ini sangat menghargai game yang bisa dimainkan bersama (co-op) namun tetap ramah bagi pemain solo. Bagi gamer di Indonesia, tren ini menguntungkan karena game indie seperti garapan Evil Raptor biasanya memiliki spesifikasi PC yang lebih bersahabat dibandingkan game AAA kelas berat.
Kegagalan Last Flag juga menjadi pengingat bahwa gaya visual ala Pixar atau Fortnite tidak lagi cukup untuk menarik perhatian jika tidak dibarengi dengan identitas mekanik yang kuat. Gamer lokal kini cenderung lebih selektif dalam memilih game multiplayer baru, mengingat investasi waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari meta permainan di tengah banyaknya pilihan judul gratis (F2P) berkualitas tinggi.