Pencarian

Skandal Bre-X: Soeharto hingga Investor Dunia Terjebak Rekayasa Gunung Emas Busang

Minggu, 24 Mei 2026 • 15:10:07 WIB
Skandal Bre-X: Soeharto hingga Investor Dunia Terjebak Rekayasa Gunung Emas Busang
Lokasi tambang emas Busang yang menjadi pusat skandal Bre-X di Kalimantan Timur.

SUMATERA UTARA — Sepanjang 1996 hingga awal 1997, nama Busang menjadi primadona bursa saham global. Perusahaan tambang asal Kanada, Bre-X Minerals, mengumumkan temuan bongkahan emas raksasa di pedalaman Kalimantan Timur dengan estimasi potensi hasil tambang mencapai 53 juta ton. Klaim itu langsung mendongkrak nilai perusahaan hingga Rp7 triliun dan menarik perhatian investor dari berbagai negara.

Keterlibatan Cendana dan Pengusaha Dekat Istana

Di Indonesia, proyek ini tidak hanya menjadi incaran investor asing. Sigit Harjojudanto, putra Presiden Soeharto, dan pengusaha Bob Hasan turut menguasai konsesi penambangan di Busang. Bob Hasan mengakuisisi 50% saham PT Askatindo Karya Mineral dan PT Amsya Lina, dua perusahaan yang memegang izin tambang Busang I dan Busang II.

Sementara itu, Sigit dibujuk Bre-X dengan imbalan US$1 juta per bulan untuk perusahaannya, PT Danutan Raya, yang ditunjuk sebagai konsultan proyek. Keterlibatan keluarga presiden membuat proyek ini hampir tidak tersentuh pengawasan ketat dari regulator.

Verifikasi Freeport yang Membongkar Kebohongan

Tekanan berubah ketika Soeharto mewajibkan perusahaan asing berbagi saham dengan pemerintah. Presiden lantas menunjuk PT Freeport-McMoRan sebagai wakil pemerintah untuk melakukan verifikasi lapangan. Freeport diwajibkan mengambil sampel batuan langsung dari lokasi tambang untuk membuktikan kladen emas.

Pada 19 Maret 1997, di hari yang sama Freeport memulai verifikasi, Direktur Eksplorasi Bre-X, Michael de Guzman, dilaporkan menghilang. Ia dikabarkan tewas bunuh diri dengan melompat dari helikopter dalam perjalanan Samarinda-Busang. "Kursi belakang dengan satu-satunya penumpang itu sudah kosong, dan pintu kanan helikopter terbuka," tulis Bondan Winarno dalam investigasinya Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi (1997:117).

Mayat Palsu dan Hasil Verifikasi Nihil Emas

Investigasi Bondan kemudian mengungkap kejanggalan. Tim SAR menemukan mayat yang diyakini sebagai Guzman dan membawanya ke Filipina untuk dimakamkan. Namun, setelah ditelusuri di Kanada, Bondan memastikan mayat itu bukan Guzman. Ciri-ciri fisiknya berbeda, mengindikasikan Guzman masih hidup dan sengaja disembunyikan—diduga di Amerika Selatan.

Pada saat bersamaan, Freeport merilis hasil verifikasi yang menyatakan tanah di Busang tidak mengandung emas. Sejumlah peneliti independen juga mengonfirmasi temuan yang sama untuk sampel batuan dari 1995 hingga 1997. Kabar itu langsung membuat saham Bre-X anjlok dan para investor, termasuk yang di Indonesia, kehilangan miliaran dolar.

Warisan Skandal dan Pelajaran bagi Industri Tambang

Skandal Bre-X menjadi salah satu penipuan tambang terbesar dalam sejarah. Tidak hanya investor publik yang tertipu, tetapi juga kepala negara dan pengusaha papan atas. Setelah kasus ini terkuak, David Walsh, bos Bre-X, disandera investor yang menuntut pengembalian dana, namun masalah tersebut tidak pernah terselesaikan secara hukum.

Hingga kini, keberadaan Michael de Guzman tidak pernah terkonfirmasi. Keluarganya meyakini dia masih hidup, namun tidak mengetahui lokasinya. Kasus Busang meninggalkan luka mendalam bagi industri pertambangan Indonesia dan menjadi pengingat betapa mahalnya harga sebuah rekayasa data geologi.

Bagikan
Sumber: cnbcindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks