SUMATERA UTARA — Petani swadaya menjadi pihak paling terpukul dalam rantai pasok sawit nasional. Menurut Apkasindo, harga TBS yang mereka terima kini hanya berkisar Rp1.800 hingga Rp2.200 per kg. Artinya, turun drastis antara Rp600 hingga Rp1.500 per kg hanya dalam hitungan hari.
“Petani swadaya sekarang itu ada yang tinggal Rp1.800-Rp2.200 per kg. Padahal HPP kita Rp2.000. Artinya, petani sudah nombok,” kata Gulat dalam keterangan resmi, Kamis (28/5/2026).
Mengapa Petani Swadaya Paling Terpuruk?
Gulat menjelaskan, petani swadaya tidak memiliki ikatan kontrak pembelian seperti petani plasma atau petani yang bermitra dengan perusahaan inti. Akibatnya, mereka kehilangan jaminan harga saat pasar bergejolak. Saat ini, petani plasma masih menikmati harga stabil di kisaran Rp3.600 per kg.
“Kalau petani bermitra masih ada perlindungan karena diatur Permentan Nomor 13 Tahun 2024. Yang paling terpuruk itu petani swadaya,” ujarnya.
Luas Lahan Vs Perlindungan Minim
Ironisnya, petani swadaya justru menguasai sebagian besar perkebunan sawit rakyat. Apkasindo mencatat, luas kebun petani swadaya mencapai 93 persen dari total kebun sawit milik rakyat. Artinya, mayoritas petani sawit Indonesia kini berada dalam posisi rentan tanpa jaring pengaman harga.
Kondisi ini kontras dengan harga CPO di pasar internasional yang masih tinggi. Celah antara harga global dan harga di tingkat petani swadaya kian melebar, mengindikasikan lemahnya posisi tawar petani di hilir.
Apkasindo mendesak pemerintah untuk segera mengevaluasi kebijakan tata niaga sawit, khususnya perlindungan bagi petani swadaya. Tanpa intervensi, celah antara harga TBS petani swadaya dan petani plasma diprediksi akan terus melebar. (Z-3)