MEDAN — Perjalanan panjang harus ditempuh Fajar Lailatul Mi’rojiyah untuk menimba ilmu di Negeri Tirai Bambu. Guru yang akrab disapa Laila ini terbang dari Jakarta menuju Tiongkok selama tujuh jam, lalu melanjutkan perjalanan darat ke Ningbo City selama 2,5 jam.
Program yang digelar Kementerian Sekretariat Negara RI ini hanya diikuti oleh guru-guru terpilih dari berbagai daerah di Indonesia. Laila berangkat bersama empat pengajar lainnya dari tanah air.
Tiba di Malam Hari, Pembukaan Terlewat
Rombongan Indonesia tiba di Ningbo pada Kamis (21/5) malam hari. Akibatnya, mereka tidak bisa mengikuti sesi pembukaan secara utuh.
"Saya bersama 4 pengajar lainnya tiba di Ningbo malam hari, sehingga kami dari Indonesia tidak mengikuti pembukaan secara utuh," ucap Laila dalam keterangan tertulis Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Utara, Senin (1/6).
Visi Pendidikan Vokasi: Berbasis Praktik dan Kebutuhan Industri
Mr Cao Bo, perwakilan kampus, menjelaskan visi pendidikan vokasi di Tiongkok pada sesi pembukaan. Para peserta mendapat gambaran sistem pembelajaran berbasis praktik dan pengembangan keterampilan abad ke-21.
"Saya mulai memahami bagaimana pendidikan vokasi di Tiongkok yang dikembangkan secara modern, namun tetap berorientasi kebutuhan industri," kata Laila.
Materi Pelatihan: Dari Kebijakan Modern hingga Kunjungan Museum
Berbagai materi diberikan kepada para guru dari Asia. Peserta mempelajari pemikiran dan kebijakan pembangunan Tiongkok modern, studi kasus pengembangan pendidikan vokasi di berbagai negara, hingga kunjungan ke Museum Pendidikan Tiongkok.
Materi penilaian mutu dan pengembangan perguruan tinggi vokasi juga menjadi bagian dari pelatihan. Laila dan rombongan sempat mengunjungi Zhejiang Financial College untuk mempelajari operasional pendidikan berbasis kelompok dan industri.
"Tapi sebelum itu, kami sholat Idul Adha di Masjid Huangzhou," jelas Laila.
Motivasi Baru untuk Guru Madrasah
Dari kegiatan ini, Laila mengaku termotivasi untuk meningkatkan kemampuan bahasa, teknologi, dan kerja sama internasional dalam pembelajaran. Ia menyadari pendidikan masa depan memerlukan komunikasi global dan adaptasi budaya.
"Sebagai guru madrasah, saya termotivasi untuk meningkatkan kemampuan bahasa, teknologi, dan kerja sama internasional dalam pembelajaran," tutur Laila.
Transformasi masif infrastruktur dan pendidikan di Tiongkok menegaskan komitmen kuat negara itu membangun peradaban modern. Tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga unggul secara kualitas.