Pencarian

1.000 Pohon Khas Melayu Ditanam di Bantaran Sungai Deli Medan, Upaya Kurangi Risiko Banjir dan Pulihkan Ekosistem

Minggu, 07 Juni 2026 • 23:33:32 WIB
1.000 Pohon Khas Melayu Ditanam di Bantaran Sungai Deli Medan, Upaya Kurangi Risiko Banjir dan Pulihkan Ekosistem
Penanaman 1.000 pohon khas Melayu di bantaran Sungai Deli Medan sebagai upaya pemulihan ekosistem dan pengurangan risiko banjir.

MEDAN — Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Kota Medan diisi aksi penanaman seribu pohon di kawasan Hutan Kota Jalan Eka Sama, Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan bertajuk "Menghidupkan Kembali Sungai Deli, Menguatkan Peradaban Melayu Berkelanjutan" ini melibatkan sejumlah komunitas, mulai dari Warga Peduli Sekitar (Wa Pesek) hingga Komunitas Warga Kanal (KWK).

Jenis Pohon yang Ditanam dan Target Areanya

Pohon yang ditanam bukan sembarang jenis. ISMI memilih pohon khas Melayu seperti sukun, matoa, dan rambutan. Ketua PW ISMI Sumut, Prof Nispul Khoiri, mengatakan pemilihan jenis ini bagian dari restorasi lingkungan sekaligus menjaga identitas budaya Melayu di Medan.

"Sungai Deli merupakan jantung Kota Medan sekaligus ikon peradaban Melayu. Jika kawasan ini dipulihkan, dampaknya tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga dapat membantu mengurangi risiko banjir di wilayah hilir," ujarnya.

Program penghijauan ini tidak berhenti di Medan Johor. ISMI berencana memperluas penanaman secara bertahap hingga ke kawasan Marelan. Setiap pohon yang ditanam akan dipantau dan dirawat secara berkala agar tumbuh optimal.

Normalisasi Ekologis vs Pembangunan Fisik

Direktur GJI, Panut Hadisiswoyo, menekankan bahwa sungai dan daerah alirannya merupakan benteng perlindungan warga di tengah cuaca ekstrem. Menurutnya, banjir besar yang melanda Medan beberapa tahun terakhir menjadi peringatan bahwa sungai harus dipulihkan, bukan dipersempit.

"Tanpa melindungi dan memulihkan sungai beserta daerah alirannya, keselamatan warga akan selalu terancam. Sungai merupakan salah satu solusi utama dalam mengurangi risiko banjir perkotaan," katanya.

Panut mengkritik pendekatan normalisasi sungai yang terlalu fokus pada pembangunan fisik. Menurutnya, pemulihan fungsi ekologis harus menjadi prioritas agar karakter alami sungai tetap terjaga.

Ruang Terbuka Hijau Medan Masih Jauh dari Ideal

Dalam kesempatan yang sama, GJI menyoroti minimnya ruang terbuka hijau di Kota Medan. Dengan luas wilayah hampir 30 ribu hektare, ketersediaan kawasan hijau dinilai belum mampu menopang keseimbangan lingkungan perkotaan.

Ketua DPP Wa Pesek, Muhammad Adlin Ginting, mengatakan kepedulian terhadap lingkungan menjadi dasar lahirnya berbagai gerakan sosial yang dilakukan organisasinya. Mulai dari penanganan bencana hingga pemberdayaan masyarakat bantaran sungai, semua butuh dukungan lintas elemen.

"Pemulihan Sungai Deli dan penghijauan kota membutuhkan dukungan seluruh masyarakat, bukan hanya warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai," tegas Adlin.

Bagikan
Sumber: sumut.idntimes.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks