MEDAN — Pelemahan IHSG dan rupiah terjadi di tengah sentimen eksternal yang sebenarnya positif. Harga minyak mentah Brent turun signifikan dari US$100,81 per barel ke sekitar US$92,7 per barel setelah Amerika Serikat menunda serangan lanjutan terhadap Iran. Penurunan harga minyak biasanya menjadi kabar baik bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia karena dapat mengurangi tekanan inflasi.
Namun, sentimen domestik akibat pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo justru lebih dominan. "Pasar kembali dikejutkan dengan pengunduran diri Gubernur BI pada perdagangan awal pekan ini. Pelaku pasar kini mencermati bagaimana transisi kepemimpinan tersebut akan memengaruhi kebijakan suku bunga acuan, stabilisasi nilai tukar, hingga pengendalian likuiditas ke depan," ujar Gunawan Benjamin, Senin (27/7/2026).
Transisi Kepemimpinan BI Jadi Fokus Investor
Menurut Gunawan, peralihan kepemimpinan berpotensi memunculkan ekspektasi baru terhadap arah kebijakan moneter. Meskipun fundamental ekonomi belum berubah, pasar membutuhkan kepastian agar volatilitas tidak berkepanjangan. "Fokus pasar kini tertuju pada arah kebijakan Bank Indonesia setelah pergantian kepemimpinan. BI selama ini dinilai berperan penting dalam menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan suku bunga, operasi moneter, serta intervensi di pasar obligasi," jelasnya.
Harga Emas Justru Menguat di Tengah Ketidakpastian
Di sisi lain, harga emas dunia justru menguat ke level sekitar US$4.104 per troy ons atau setara Rp2,37 juta per gram. Kenaikan emas menunjukkan investor masih mempertahankan minat terhadap aset lindung nilai meskipun tensi geopolitik di Timur Tengah mulai mereda. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih waspada terhadap risiko domestik.
Gunawan memperkirakan volatilitas pasar keuangan domestik masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan hingga ada kepastian mengenai pengganti Gubernur BI dan arah kebijakan bank sentral ke depan. Meski demikian, IHSG masih berpeluang berbalik menguat apabila sentimen domestik mulai mereda dan investor kembali fokus pada fundamental ekonomi Indonesia.