MEDAN — Pertumbuhan investor pasar modal di Sumatera Utara melesat dalam 14 tahun terakhir. Dari sekitar 14.000 SID pada 2012, kini angkanya menjadi 1.493.064 SID per Juli 2026.
Kepala Kantor Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumut, Muhammad Pintor Nasution, menyampaikan hal itu kepada wartawan di Medan.
"Peningkatan investor di Sumatera Utara meningkat signifikan yang menjadikannya nomor satu di luar Jawa," kata Pintor.
Medan dan Deli Serdang Jadi Penyumbang Terbesar
Kota Medan menyumbang 396.261 SID, disusul Deli Serdang 202.644 SID, Langkat 79.797 SID, Simalungun 76.266 SID, dan Asahan 59.252 SID.
Secara nasional, Pulau Jawa masih memimpin jumlah investor. Sumatera berada di posisi kedua, dengan Sumut sebagai provinsi tertinggi di luar Jawa.
Perusahaan Sumut yang Go Public Bertambah dari 3 ke 12
Bukan hanya investor yang bertambah. Jumlah perusahaan asal Sumut yang tercatat di BEI pada 2012 hanya tiga, kini menjadi 12 perusahaan per Juli 2026.
"Tahun ini akan ada lagi perusahaan sektor kelapa sawit yang mau listing di bursa," ujar Pintor.
Ia menyebut ada perusahaan yang sebelumnya berencana listing namun ditolak karena berbagai persyaratan. Bank Sumut disebut telah mencabut sendiri pendaftaran yang diajukan untuk listing.
Galeri Investasi di Kampus dan Kantor Pemerintahan Dorong Minat Warga
Pintor menilai bertambahnya kantor perwakilan dan Galeri Investasi (GI) ikut mendorong kenaikan jumlah investor di daerah.
"Galeri Investasi dulu 200, sekarang secara nasional ada 1.500. Di Sumut sekarang ada 28 yang didirikan di kampus dan kantor pemerintahan seperti di Langkat dan Tebingtinggi. Tahun ini akan tambah lagi delapan Galeri Investasi," jelasnya.
Keberadaan GI di kantor pemerintahan dan layanan perdagangan saham daring melalui perusahaan sekuritas memudahkan masyarakat berinvestasi.
"Sangat membantu adanya Galeri Investasi di kantor pemerintahan dan online trading sekuritas," katanya.
Generasi Z Dominasi Jumlah Investor, Dana Besar di Tangan Usia Tua
Dari sisi usia, investor pasar modal Sumut didominasi kelompok muda. Investor berusia 18-25 tahun atau generasi Z mencapai 33,64 persen, disusul kelompok usia 26-30 tahun sebesar 24,38 persen, dan usia di atas 31 tahun sebesar 24,50 persen.
"Jumlah investor paling banyak yang muda, tapi jumlah dana yang kaya usia tua," ungkap Pintor.
Aturan Masuk Bursa Makin Ketat, Direktur Keuangan Wajib Berlatar Ekonomi
Pintor menambahkan, aturan masuk bursa saat ini semakin ketat, salah satunya soal persyaratan latar belakang pendidikan pejabat perusahaan.
"Dulu direktur keuangan tak masalah tamatan apa, tapi sekarang harus yang berlatar belakang ekonomi," pungkasnya.