MEDAN — Rantai pasok energi di Sumatera Utara semakin bertumpu pada jalur kereta api. PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara mencatat pengangkutan BBM mencapai 208.070 ton sepanjang Januari hingga Juli 2026, atau naik 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 185.444 ton.
Kinerja bulanan juga menunjukkan tren positif. Pada Juli 2026 saja, KAI Divre I Sumut menyalurkan 32.164 ton BBM, meningkat 15 persen dari realisasi Juli 2025 yang berada di angka 27.962 ton.
Distribusi Harian: 48 Gerbong Ketel Setiap Hari
Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, menyebut pengangkutan BBM dilayani melalui tiga perjalanan kereta api dari Stasiun Labuan menuju Stasiun Siantar dan Kisaran. Setiap harinya, sebanyak 48 gerbong ketel membawa ribuan kiloliter BBM dari stasiun pengisian di Labuan menuju Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) yang berada dekat dengan Stasiun Kisaran dan Siantar.
“Kelancaran distribusi BBM yang disalurkan menggunakan kereta api turut menjaga pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat di Sumatera Utara,” ujar Anwar.
B40 Bertransformasi Jadi B50 Sejak Juli 2026
Terdapat tiga jenis BBM yang didistribusikan menggunakan armada kereta api, yakni Pertalite, Pertamax, dan Bio Solar. Penyaluran komoditas energi ini menyesuaikan dengan regulasi terbaru pemerintah. Sejak 1 Juli 2026, menyusul diterbitkannya Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026, jenis Bio Solar yang diangkut bertransformasi dari B40 menjadi B50.
“KAI Divre I Sumatera Utara berkomitmen untuk terus mengoptimalkan keandalan sarana dan prasarana angkutan barang guna memastikan rantai pasok energi di Sumatera Utara berjalan aman, lancar, dan tepat waktu,” kata Anwar.
Peran Strategis Kereta Api dalam Stabilitas Ekonomi Daerah
Anwar menambahkan, pihaknya siap mendukung penuh kebijakan pemerintah serta kebutuhan energi masyarakat. Hal ini dinilai penting untuk mendorong konektivitas dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di wilayah Sumatera Utara.
Dengan kapasitas angkut yang besar dan jadwal yang konsisten, moda rel menjadi tulang punggung distribusi BBM ke wilayah Siantar dan Kisaran. Keandalan sarana dan prasarana menjadi kunci agar pasokan energi tidak terganggu, terutama di tengah peningkatan kebutuhan masyarakat dan industri.