Pencarian

Produk Camilan Lokal Tapsel Kalah Saing di Outlet Sendiri, Pengusaha Soroti Tiga Hal Ini

Minggu, 23 Agustus 2026 • 15:40:31 WIB
Produk Camilan Lokal Tapsel Kalah Saing di Outlet Sendiri, Pengusaha Soroti Tiga Hal Ini
Beragam camilan dari Sumatera Barat dan Riau mendominasi rak outlet di Tapanuli Selatan sejak 2017.

Makanan ringan asal Sumatera Barat dan Riau masih mendominasi rak-rak outlet di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, sementara produk UMKM lokal baru mulai menembus pasar sekitar lima tahun terakhir. Pengusaha rumah makan menyebut kualitas produk lokal sebenarnya tak kalah, namun masih kalah di soal kemasan, cita rasa, dan harga. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pelaku UKM setempat untuk memperluas pasar di daerahnya sendiri.

TAPANULI SELATAN — Dominasi camilan luar daerah di Tapsel bukan sekadar soal selera pasar, melainkan cerminan kesenjangan daya saing yang masih dihadapi pelaku usaha kecil dan menengah setempat. Produk-produk dari Sumatera Barat dan Riau telah mengisi outlet sejak 2017, sementara produk lokal baru mulai menitipkan dagangannya dalam setengah dekade terakhir.

Dewi Siregar, pengusaha rumah makan Sarayepo Parsariran di Kecamatan Batangtoru, mengakui produk lokal baru masuk ke outletnya sekitar lima tahun terakhir. Padahal, dari sisi kualitas, ia menilai produk UMKM Tapsel tidak kalah dengan camilan kiriman dari provinsi tetangga.

Ragam Camilan Luar yang Menguasai Rak

Berbagai jenis makanan ringan dari luar daerah yang dijual di outlet tersebut cukup bervariasi. Mulai dari untir-untir, kerupuk tempe, kacang tepung, lapo-lapo, kuping gajah, rakik kacang, sarang burung, dodol, dodol garit, kue kacang, kerupuk ubi, hingga sarang balam.

Sistem pemasaran yang diterapkan pun terbilang fleksibel. Produk-produk tersebut umumnya dipasok ke outlet dan pembayarannya dilakukan secara berkala, yakni sekali dalam sepekan setelah produk terjual.

Kemasan, Rasa, dan Harga Jadi Penentu

Dewi menilai ada tiga aspek utama yang menjadi tantangan bagi pelaku UKM lokal untuk bisa bersaing di pasar sendiri. Ketiganya saling berkaitan dan menentukan apakah produk lokal mampu diterima konsumen atau tidak.

"Yang menjadi tantangan itu soal cita rasa, kemasan dan harga. Tiga hal ini harus menjadi perhatian pelaku UKM lokal," kata Dewi kepada Antara, Minggu.

Menurutnya, kemasan yang menarik dan standar rasa yang konsisten menjadi faktor penting dalam menarik minat konsumen. Selain itu, harga juga harus disesuaikan dengan daya beli masyarakat tanpa mengorbankan kualitas produk.

Peluang Masih Terbuka Lebar

Meski kalah start, peluang produk lokal untuk mengisi pasar yang selama ini dikuasai camilan luar daerah dinilai masih terbuka lebar. Kunci utamanya ada pada penguatan kualitas produk, perbaikan kemasan, dan strategi pemasaran yang lebih agresif.

Dewi berharap semakin banyak pelaku UKM Tapsel yang berani menitipkan dan memperluas pemasaran produknya di berbagai outlet. Dengan begitu, perlahan produk lokal bisa menggeser dominasi camilan dari luar daerah di pasar sendiri.

Follow kabarsumut.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sumut.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks