TEBING TINGGI — Banjir yang melanda Kota Tebing Tinggi melumpuhkan aktivitas di empat kecamatan. Data terbaru Pusdalops PB Sumut yang diterima Senin menunjukkan Kecamatan Tebing Tinggi Kota menjadi wilayah dengan dampak terparah.
Sebanyak 442 KK dan 384 rumah di Kelurahan Bandar Utama terendam. Disusul Kelurahan Badak Bejuang dengan 84 KK dan 84 rumah, serta Kelurahan Tebing Tinggi Lama yang mencatat 20 KK dan 20 rumah terdampak.
Kecamatan Bajenis mencatat dampak paling luas secara sebaran. Lima kelurahan di wilayah itu terendam banjir: Bandar Sakti (46 KK, 40 rumah), Berehol (76 KK, 71 rumah), Bulian (182 KK, 178 rumah), Pinang Mancung (2 KK, 14 rumah), dan Teluk Karang (1 KK, 14 rumah).
Di Kecamatan Rambutan, banjir merendam Kelurahan Seri Padang Lingkungan I dan II. Sebanyak 117 KK dan 103 rumah terdampak di wilayah tersebut.
Sementara itu, Kecamatan Padang Hulu mencatat 69 KK terdampak yang tersebar di Kelurahan Pabatu dan Kelurahan Lubuk Batu.
Banjir tidak hanya merendam permukiman warga. Fasilitas publik ikut menjadi korban. Dua sekolah dasar negeri, satu puskesmas pembantu, satu pasar, dan satu mushalla dilaporkan terendam genangan.
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati menyatakan bahwa hingga laporan dirilis, tidak ada korban jiwa maupun warga yang mengungsi.
"Berdasarkan laporan korban luka maupun korban meninggal dunia dan pengungsi nihil," ujar Yuyun, sapaan akrabnya.
Yuyun mengatakan berbagai upaya penanganan telah dilakukan oleh pemerintah setempat bersama pemangku kebijakan terkait. BPBD Sumut juga terus berkoordinasi untuk memastikan penanganan bencana berjalan di lokasi terdampak.
"Kondisi terkini masih dalam penanganan pihak terkait," ujarnya.
Banjir di Tebing Tinggi menjadi catatan tersendiri bagi BPBD Sumut. Sebaran dampak yang merata di empat kecamatan menunjukkan perlunya evaluasi sistem drainase kota dan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem ke depan.