MEDAN — Puluhan mahasiswa lintas iman di Sumatera Utara duduk bersama dalam satu forum untuk mendiskusikan hubungan antara spiritualitas dan tanggung jawab ekologis. National Youth Interfaith Leadership Forum Sumut 2026 menjadi wadah kolaborasi yang tak hanya bicara toleransi, tetapi juga aksi nyata menjaga alam.
Ketua PWM Sumut, Hasyimsya Nasution, dalam sambutannya menegaskan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk bekerja sama. Menurutnya, alam adalah ciptaan Tuhan yang menjadi tanggung jawab bersama seluruh umat manusia.
“Keyakinan tidak bisa kita diskusikan untuk dipersatukan, tetapi soal alam bisa kita jaga bersama. Kepentingan lintas agama yang sama adalah menjaga alam dan kemanusiaan,” ujar Hasyimsya di hadapan para peserta.
Forum ini tidak sekadar diskusi. Rangkaian acara meliputi seminar, talk show, dan dialog interaktif yang menghadirkan sejumlah pemateri. Para peserta diajak untuk memahami bahwa menjaga lingkungan hidup merupakan bagian dari nilai kemanusiaan dan tanggung jawab moral yang tidak mengenal batas agama.
Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Sumut, Tamara Rizky, menjelaskan bahwa forum ini dirancang sebagai ruang kolaborasi berkelanjutan bagi mahasiswa lintas iman. Ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif perempuan dan kelompok difabel dalam setiap aksi sosial dan lingkungan.
“Eco Bhinneka merupakan wadah penguatan lintas iman yang mendorong kolaborasi antaragama dalam menciptakan ruang dialog, keberanian, dan aksi nyata di tengah masyarakat, khususnya dalam merespons persoalan sosial, lingkungan, serta keterlibatan aktif perempuan dan kelompok difabel,” kata Tamara.
Konsep ekospiritual yang diangkat dalam forum ini menjadi jembatan antara nilai-nilai keagamaan dan kepedulian terhadap krisis iklim. Para peserta dari berbagai latar belakang organisasi dan kampus diajak merefleksikan bahwa merawat alam adalah bagian dari ibadah dan kemanusiaan.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung PWM Sumut ini juga menjadi ruang refleksi bersama. Tidak ada agenda mempersatukan keyakinan, melainkan menyatukan langkah dalam merawat bumi.
Forum ini diharapkan mampu melahirkan aksi-aksi nyata di tingkat komunitas dan kampus. Para mahasiswa lintas iman di Sumatera Utara kini memiliki wadah untuk terus berkolaborasi dalam isu lingkungan dan kemanusiaan secara inklusif dan berkelanjutan.