SUMATERA UTARA — Serial dokumenter 70 Up menjadi instalasi terbaru dari warisan panjang yang dimulai saat sutradara asal Kanada Paul Almond merekam 14 anak sekolah Inggris berusia tujuh tahun pada 1964. Proyek berjudul Seven Up! itu menelusuri kehidupan anak-anak dari berbagai kelas sosial. Tujuh tahun berselang, sutradara Inggris Michael Apted kembali merekam mereka untuk 14 Up dan melanjutkan tradisi itu setiap tujuh tahun.
Dari pola itulah lahir tujuh film lanjutan yang masing-masing berjarak tujuh tahun. Hasilnya dikenal sebagai salah satu serial dokumenter longitudinal paling orisinal di dunia. Apted meninggal pada 2019 dan tidak sempat menyaksikan dua bagian terakhir, termasuk 70 Up.
Estafet penyutradaraan jatuh ke tangan Asif Kapadia, sutradara di balik film Amy. Ia mendokumentasikan 12 partisipan yang masih hidup saat mereka merenungi perjalanan hidup di usia tujuh puluhan. Dua anggota kohort awal, Lynn Johnson dan Nick Hitchon, meninggal selama rangkaian serial berjalan.
Kapadia menggarap proyek ini bersama Jo Clinton-Davis, controller factual ITV. Clinton-Davis mengaku terlibat dalam tiga dari sepuluh film serial tersebut. Menonton serial ini saat masih anak-anak, katanya, justru yang membuatnya ingin bekerja di dunia televisi.
Clinton-Davis menyebut pengalamannya menggarap serial ini sebagai sesuatu yang istimewa. Ia menontonnya sejak usia tujuh tahun dan mengaku selalu merasa mendapat kehormatan bisa terlibat. Menurut dia, bekerja dengan sutradara auteur membuat prosesnya berbeda dari program factual lain.
"I've always felt both incredibly privileged, in how delicate it is but [also] robust because it's been going for that long," ujarnya kepada Variety.
Ia menggambarkan serial ini sebagai sesuatu yang berharga sekaligus rapuh. Sesuatu yang berharga, katanya, cenderung rapuh dan tidak boleh sampai rusak. Kapadia dinilai berhasil melanjutkan warisan itu sambil memberi cap tersendiri.
Clinton-Davis mengakui lanskap televisi berubah drastis dalam tujuh tahun terakhir. Kesadaran merek yang dulu dimiliki penonton lama tidak otomatis dimiliki penonton muda. Karena itu ia memikirkan cara menarik generasi baru tanpa harus membuat konten yang dangkal.
Ia menyebut penonton muda justru menginginkan kedalaman dalam dokumenter. Montase partisipan yang menua dari waktu ke waktu menjadi salah satu elemen yang ia pertahankan. Proses menua sungguhan dari usia tujuh hingga tujuh puluh tahun itu dinilai sebagai sesuatu yang luar biasa.
Menurut Clinton-Davis, tidak ada yang mustahil di dunia televisi. Namun ia menyebut ada banyak pertimbangan, termasuk soal kewajiban perlindungan terhadap partisipan yang kini jauh lebih ketat. BBC pernah mencoba pendekatan serupa lewat Child of Our Time, meski menurutnya tidak sesukses Up.
Ia menilai proyek ini sepenuhnya unik. Kehidupan anak-anak beserta harapan, mimpi, dan ketakutan mereka tetap menjadi hal yang menarik bagi banyak orang. Meski begitu, Clinton-Davis menyatakan dengan tegas bahwa film dua bagian ini akan menjadi yang terakhir dalam serial tersebut.
Bagi industri dokumenter, 70 Up menegaskan bahwa format observasi jangka panjang tetap punya tempat di tengah banjir konten cepat saji. Yang dibutuhkan hanya kesabaran enam dekade dan kesediaan menatap hidup orang lain apa adanya.