SUMATERA UTARA — Shell Indonesia menegaskan bisnis pelumas tetap punya pasar di tengah pertumbuhan kendaraan listrik, karena mobil hybrid dan bermesin pembakaran masih mendominasi jalanan Tanah Air. Perusahaan baru saja meresmikan Pabrik Manufaktur Gemuk berkapasitas 12 kiloton per tahun untuk menyasar sektor industri. Langkah ini menandai penyesuaian bisnis Shell dari pelumas mesin konvensional menuju cairan khusus kendaraan listrik atau e-fluids.
Jason Wong, Global Executive Vice President Shell Lubricants, menyatakan bahwa kendaraan penumpang di pasar domestik tidak hanya terdiri dari mobil listrik murni. Ada kategori hybrid dan mayoritas masih menggunakan mesin pembakaran internal (ICE).
"Memang adopsi EV sudah semakin banyak, tapi dari sisi mobil penumpang sendiri sebetulnya kategorinya masih banyak, ada hybrid dan mayoritas masih ICE," kata Wong di Jakarta, Selasa (15/9).
Porsi ICE Menyusut, Tapi Basis Konsumen Tetap Besar
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan pergeseran nyata. Porsi ICE melorot dari 99,6 persen pada 2021 menjadi 78,2 persen pada 2025. Di periode yang sama, porsi battery electric vehicle (BEV) melesat dari 0,1 persen ke 12,9 persen.
Per Maret 2026, kontribusi BEV naik lagi ke 15,6 persen, sementara ICE turun ke 75 persen. Penjualan BEV melonjak 96 persen menjadi 33.146 unit dari sebelumnya 16.926 unit. Angka itu jauh melampaui pertumbuhan industri yang cuma 1,7 persen.
Sebaliknya, penjualan mobil ICE ambles dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit. Hingga akhir 2026, porsi BEV diprediksi melambung ke kisaran 19-20 persen.
Meski trennya jelas, Wong menilai basis konsumen kendaraan konvensional tetap menjadi pasar yang akan dilayani untuk beberapa waktu ke depan.
"Nah itu adalah porsi konsumen atau pelanggan yang akan terus kami layani," ujarnya.
Hybrid Masih Butuh 70-80 Persen Pelumasan
Kendaraan hybrid menjadi jembatan antara mesin konvensional dan elektrifikasi penuh. Menurut Shell, sekitar 70-80 persen kebutuhan pelumasan pada kendaraan hybrid masih tetap ada.
"Dan kemudian untuk hybrid, 70-80 persen masih butuh pelumasan. Jadi tidak akan langsung hilang semuanya," kata Wong.
Mobil listrik murni memang tidak membutuhkan pelumas mesin karena tidak memiliki mesin pembakaran dengan banyak komponen bergerak. Namun bukan berarti kendaraan listrik sama sekali bebas dari cairan pelumas.
Pabrik Gemuk 12 Kiloton per Tahun di Bekasi
Shell mulai menyesuaikan bisnis dengan perkembangan kendaraan listrik. Perusahaan telah meluncurkan produk yang ditujukan untuk kendaraan listrik atau disebut e-fluids.
Pengembangan lini bisnis berlanjut dengan peresmian Pabrik Manufaktur Gemuk (Grease Manufacturing Plant/GMP) di Indonesia. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi hingga 12 kiloton per tahun dan melengkapi Pabrik Pelumas (Lubricants Oil Blending Plant/LOBP) Marunda milik Shell di Bekasi.
"Target kami sektor industri, sektor ini akan tetap butuh lubrikasi sampai beberapa tahun ke depan," kata Wong.
Perusahaan bakal menyasar sektor industri dari setiap produk yang dihasilkan pabrik baru tersebut. Langkah ini menunjukkan Shell tidak hanya bertahan di segmen pelumas otomotif, tetapi juga memperluas cakupan ke kebutuhan industri yang permintaannya lebih stabil terhadap gejolak elektrifikasi kendaraan penumpang.