SUMATERA UTARA — Laporan terbaru Counterpoint Research yang dirilis Sabtu (23/5/2026) mengonfirmasi tren perlambatan pasar ponsel nasional. Kenaikan biaya komponen global dan melemahnya daya beli konsumen disebut sebagai faktor utama yang membuat masyarakat menunda upgrade perangkat. Kondisi ini langsung memicu perang harga di segmen yang paling sensitif terhadap kondisi ekonomi.
OPPO Tergelincir, Tapi Masih Kokoh di Puncak
OPPO mencatatkan pangsa pasar 22% pada Q1 2026, turun dari 27% di periode yang sama tahun sebelumnya. Secara tahunan, pengiriman OPPO ambles 24% — penurunan paling tajam dibanding pesaing utamanya. Namun, strategi perusahaan memperkuat portofolio kelas menengah, terutama seri A, dinilai berhasil menjadi bantalan penahan.
Counterpoint menilai OPPO cukup jeli membaca pasar. Konsumen kelas menengah Indonesia relatif tidak terlalu sensitif terhadap kenaikan harga, sehingga OPPO bisa mempertahankan margin tanpa harus kehilangan volume pengiriman secara drastis. Langkah ini menjaga posisi mereka di puncak meskipun tekanan pasar semakin besar.
Xiaomi Mendekat: Selisih Hanya 1%
Xiaomi menjadi pesaing paling agresif. Pangsa pasarnya naik tipis dari 20% di Q1 2025 menjadi 21% di Q1 2026. Meski pengiriman Xiaomi juga turun 4% secara tahunan, angka itu jauh lebih kecil dibanding penurunan OPPO. Counterpoint mencatat kekuatan Xiaomi ada pada lini Redmi A-series yang menawarkan spesifikasi kompetitif di harga yang lebih murah.
Selain itu, Xiaomi terus memperluas jaringan ritelnya di Indonesia melalui konsep toko baru yang mengedepankan integrasi ekosistem perangkat pintar. Strategi ini tidak hanya mendorong penjualan ponsel, tetapi juga membangun loyalitas pengguna terhadap produk-produk Xiaomi lainnya.
Mengapa Pasar Sedang Lesu?
Penurunan 9% secara tahunan pada kuartal pertama 2026 bukanlah kejutan. Lonjakan biaya komponen global membuat harga ponsel naik di semua lini. Sementara di sisi lain, daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Akibatnya, konsumen cenderung bertahan dengan perangkat lama dan menunda pembelian baru.
Kondisi ini memaksa vendor untuk bermain lebih agresif di segmen entry-level dan mid-range. Margin tipis menjadi risiko yang harus dihadapi, namun bagi merek seperti Xiaomi dan OPPO, mempertahankan volume pengiriman adalah prioritas utama untuk menjaga ekosistem dan pangsa pasar jangka panjang.
Bagaimana Strategi OPPO ke Depan?
OPPO tidak punya banyak pilihan selain terus menggenjot seri A sebagai tulang punggung penjualan. Di sisi lain, mereka juga harus menjaga lini flagship agar tidak kehilangan citra merek. Persaingan dengan Xiaomi yang semakin ketat berarti setiap langkah strategis akan menentukan siapa yang keluar sebagai pemimpin di kuartal-kuartal berikutnya.
Dengan selisih pangsa pasar yang hanya 1%, posisi OPPO di puncak sangat rapuh. Satu kesalahan dalam strategi harga atau rantai pasok bisa langsung mengubah peta persaingan pasar smartphone Indonesia.