SUMATERA UTARA — Nova Widianto resmi kembali mengepalai sektor ganda campuran Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, per Agustus 2026. Ia menggantikan perannya selama melatih timnas Malaysia pada 2022–2026.
Langkah pertamanya bukan menyusun strategi teknis, melainkan membenahi mental para atlet. Nova menilai kepercayaan diri pemain jadi fondasi yang harus dipulihkan lebih dulu sebelum menyentuh aspek permainan.
Fokus Pertama Nova: Buka Pola Pikir dan Pulihkan Mental Atlet
"Mungkin untuk awal saya ingin buka pola pikir atlet saja. Baru kemudian mengubah cara main mereka dan konsistensinya. Paling penting adalah mengembalikan kepercayaan diri mereka dulu. Ya, kami mulai dari nol lagi," kata Nova di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, Kamis (10/9).
Pendekatan itu diambil setelah ganda campuran Indonesia lama kesulitan menyabet gelar di turnamen bergengsi. Nova menyebut persoalannya bukan sekadar teknik, tapi juga keyakinan pemain pada kemampuan sendiri.
"Ganda campuran Indonesia sempat bagus, tapi kami harus kembalikan kepercayaan diri mereka dan beri tahu bahwa mereka itu mampu," ujarnya.
Tiga Pasangan Baru dan Gebrakan Perombakan Sektor
Perombakan berjalan cepat. PBSI mengumumkan tiga pasangan anyar: Dejan Ferdinansyah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, Bagas Maulana/Apriyani Rahayu, dan M. Nawaf Khoiriyansyah/Indah Cahya Sari Jamil.
Sebelumnya, PBSI juga memasangkan Nikolaus Joaquin dengan Siti Fadia Silva Ramadhanti untuk Asian Games 2026. Kombinasi ini menjadi bagian dari eksperimen menyusun kekuatan baru di sektor tersebut.
Hasilnya mulai terlihat. Dejan/Apriyani menjuarai Pontianak International Challenge 2026 pada awal September. Sementara Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah menyumbang perunggu di Kejuaraan Dunia BWF 2026.
Road to Olympic 2028 Jadi Peta Jalan Utama
Nova tidak ingin sekadar menambal kekosongan. Ia menyusun peta jalan menuju Olimpiade 2028 Los Angeles dan menilai dua tahun cukup untuk membangun pasangan dari garis start.
"Kami harus pikirkan Road to Olympic karena kalau terlambat dalam mencari pasangan, tidak bisa bersaing di level atas," ucapnya.
Soal jalur kompetisi, Nova memilih pendekatan bertahap. Pasangan baru akan ditempa di level International Challenge lebih dulu sebelum naik ke turnamen berpoin besar.
"Di awal memang kami berangkat dari International Challenge dulu, nanti kalau lebih bagus untuk perhitungan poin baru [naik] ke Super 750 atau bahkan 1000. Selain yang sudah ada Amri/Nita, kami lihat juga Dejan/Felisha paling tidak dan yang lain masih dilihat perkembangannya," ia menegaskan.
Dengan waktu dua tahun menuju kualifikasi Olimpiade, keputusan Nova soal pasangan mana yang dipertahankan akan jadi penentu arah ganda campuran Indonesia.