Pencarian

Beban Neymar di Pundak Brasil: Antara Messi yang Tak Pernah Tervisualisasikan dan Harapan Terakhir di Piala Dunia 2026

Minggu, 24 Mei 2026 • 03:59:01 WIB
Beban Neymar di Pundak Brasil: Antara Messi yang Tak Pernah Tervisualisasikan dan Harapan Terakhir di Piala Dunia 2026
Neymar berdiri sendiri di dekat bus tim Brasil usai kekalahan dari Belgia di Piala Dunia 2018.

SUMATERA UTARA — Di usia 18 tahun, Neymar memulai debutnya untuk Timnas Brasil sebagai bagian dari regenerasi setelah kegagalan Piala Dunia 2010. Saat itu, Lionel Messi sudah berusia 23 tahun dan bersinar terang. Brasil, dalam kepanikannya, butuh sosok setara. Neymar-lah yang dipilih. Sejak itu, ia tak pernah benar-benar lepas dari bayang-bayang pemain Argentina tersebut.

Momen Sunyi di Kazan: Beban yang Tak Tertahankan

Mungkin adegan paling menggambarkan beban Neymar terjadi setelah Brasil tersingkir oleh Belgia di perempat final Piala Dunia 2018. Di tempat parkir stadion Kazan, ia berdiri sendirian di samping bus tim, tubuhnya membungkuk di bawah sorotan lampu LED raksasa. Usianya baru 26 tahun, tapi seolah peluang terbaiknya untuk memenangkan Piala Dunia telah sirna.

Kekalahan itu bukan sepenuhnya salahnya. Namun, kehadirannya di lapangan justru menciptakan celah taktis yang dieksploitasi Roberto Martínez. Dengan memindahkan Romelu Lukaku ke sisi kanan, Belgia terus menusuk sisi kiri lemah Brasil setiap kali merebut bola. Mengakomodasi Neymar membutuhkan kompensasi di lini tengah—tanpa Rodrigo De Paul versi Brasil, tim pun kehilangan keseimbangan.

Dari Dipuja hingga Dihajar: Siklus Kekerasan yang Tak Berujung

Masalah ini sudah terlihat sejak Copa América 2011. Setelah membawa Santos juara Copa Libertadores, Neymar datang ke Argentina dengan gelombang hype yang langsung dipatahkan oleh bek Venezuela, Roberto Rosales. Dua pertemuan berikutnya dengan Darío Verón dari Paraguay mempertegas satu hal: Neymar benar-benar tidak suka saat lawan mengalahkannya dalam duel fisik.

Maka dimulailah perlombaan senjata paling menjengkelkan dalam sepak bola 2010-an: bek-bek menendangnya, dan Neymar mulai mengantisipasi kontak, melebih-lebihkan, berpura-pura, dan menyelam. Beberapa bek tampaknya menyimpulkan, lebih baik menabraknya saja karena ia akan jatuh sambil berteriak bagaimanapun juga.

Puncak Tragedi: Tulang Punggung Patah dan Kehancuran 7-1

Puncaknya terjadi di perempat final Piala Dunia 2014 yang brutal. Brasil memang menang atas Kolombia, tapi Neymar mengalami patah tulang belakang setelah lutut Juan Camilo Zúñiga menghantam punggungnya. Tantangan itu hampir pasti canggung atau terlalu bersemangat, bukan jahat—tapi status Neymar membuat Zúñiga dikutuk oleh federasi Brasil dan menjadi sasaran kampanye kebencian di media sosial.

Suasana di Rio de Janeiro keesokan paginya sunyi, seperti setelah bencana nasional besar. Tanpa Neymar, Brasil kehilangan arah. David Luiz mengacungkan jersey kosong Neymar saat lagu kebangsaan berkumandang. Histeria massal menguasai tim. Jerman pun mencetak tujuh gol tanpa ampun. Sebuah negara telah kehilangan akal sehatnya secara kolektif, membangun Neymar menjadi pemain yang sebenarnya bukan dirinya.

Kisah yang Terlewatkan: Potensi Besar yang Tak Pernah Bebas

Di balik semua kontroversi, ada ironi yang sering terlewatkan. Neymar adalah pemain yang menyenangkan sebagian orang dan membuat frustrasi sebagian lainnya—sebuah wadah tempat faksi-faksi yang bersaing menuangkan narasi mereka. Sosok individu itu sendiri sering hilang di tengah hiruk-pikuk. Ada kepedihan dalam kisah Neymar: seorang calon hebat yang tidak pernah benar-benar diizinkan menjadi dirinya sendiri, yang substansinya tidak pernah sepenuhnya sesuai dengan citranya.

Sekarang, di usia 34 tahun, Ancelotti memanggilnya lagi. Ini bukan sekadar keputusan teknis. Ini adalah taruhan terakhir Brasil untuk menulis ulang narasi yang sudah tertunda selama 15 tahun. Namun, tanpa mengubah budaya ketergantungan yang sudah mengakar, apakah panggilan ini akan menjadi akhir yang manis—atau sekadar pengulangan dari drama yang sama?

Bagikan
Sumber: theguardian.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks