SUMATERA UTARA — PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) membukukan laba bersih USD 25,09 juta hingga kuartal III-2026, melonjak 113,20% dari USD 11,77 juta pada periode sama tahun lalu. Lonjakan itu ditopang akuisisi 20% saham Husky-CNOOC Madura Limited, operator Blok Madura, yang mengerek bagian laba entitas asosiasi.
Pendapatan usaha RATU hanya tumbuh 7,20% menjadi USD 40,31 juta, sehingga kenaikan laba tidak sepenuhnya berasal dari bisnis utama. Kontribusi terbesar datang dari bagian laba entitas asosiasi yang melonjak 345,20% menjadi USD 19,24 juta, ditambah keuntungan sekali dari pembelian dengan diskon atau bargain purchase sebesar USD 3,91 juta.
Total laba periode berjalan emiten migas itu tercatat naik 170,90% menjadi USD 32,12 juta. Aksi korporasi atas HCML menambah portofolio participating interest RATU yang sebelumnya mencakup Blok Cepu, Jabung, dan Kasuri.
Skala Neraca RATU Melonjak, Beban Keuangan Ikut Naik
Ekspansi lewat akuisisi membuat total aset RATU naik 212,30% secara tahunan menjadi USD 237,38 juta. Investasi pada entitas asosiasi melesat 1.626,70% menjadi USD 130,12 juta.
Pendanaan akuisisi melalui utang menekan sisi kewajiban. Beban keuangan RATU meningkat 351,10%, sementara total liabilitas naik 702,50% menjadi USD 155,79 juta. Bagi investor, lonjakan laba perlu dibaca bersama kenaikan beban bunga yang menyertai struktur pendanaan baru.
ERAL: Laba Naik 55,08%, Motor Pertumbuhan Kini dari Otomotif
PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) mencatat laba bersih Rp 193,84 miliar hingga kuartal III-2026, naik 55,08% dari Rp 124,99 miliar pada periode sama tahun sebelumnya. Penjualan perseroan tumbuh 44,71% menjadi Rp 6,21 triliun.
Bisnis otomotif menjadi mesin pertumbuhan utama dengan pendapatan segmen melonjak 784% secara tahunan menjadi Rp 1,99 triliun dari sebelumnya Rp 225,24 miliar. Kontribusinya kini sekitar 32% dari total penjualan ERAL.
Komposisi bisnis ikut bergeser. Sebelumnya penjualan lebih banyak berasal dari segmen aksesoris dan IoT sebesar Rp 2,36 triliun serta fashion apparel Rp 1,25 triliun. Laba kotor ERAL tumbuh 47,54%, tetapi beban penjualan dan distribusi naik 61,24% dan beban keuangan meningkat 68,78%.
BRIS Buyback Rp 500 Miliar Tanpa RUPS
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menyiapkan pembelian kembali saham dengan dana maksimal Rp 500 miliar yang berasal dari kas internal. Buyback dilakukan tanpa RUPS di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan.
Secara proforma, total aset BRIS menjadi Rp 464,01 triliun dari posisi sebelumnya Rp 464,51 triliun. Total ekuitas diproyeksikan turun menjadi Rp 50,54 triliun dari Rp 51,04 triliun, sedangkan rasio kecukupan modal atau CAR menjadi 20,19% dari 20,41%.
Pelaksanaan buyback dilakukan melalui Bursa Efek dengan satu anggota bursa. Periode pelaksanaannya berlangsung 27 Oktober 2026 hingga 26 Januari 2027.
IHSG Turun 1,99%, Asing Masih Net Sell Rp 700,88 Miliar
Pergerakan kinerja emiten itu muncul saat IHSG ditutup melemah 1,99% ke level 5.266,13 pada perdagangan Selasa (27/10). Investor asing mencatat penjualan bersih Rp 700,88 miliar di pasar reguler dan Rp 668,26 miliar di seluruh pasar.
Sebanyak 10 dari 11 sektor berakhir melemah, dengan sektor energi terkoreksi paling dalam 3,33%. Sektor industri menjadi satu-satunya penguat dengan kenaikan 1,43%. UNTR naik 6,00%, ASII menguat 1,54%, dan BOGA melesat 22,88%, sedangkan TLKM turun 4,89%, AMMN melemah 5,05%, dan BYAN terkoreksi 4,10%.
Tekanan jual turut terjadi setelah rebalancing indeks WisdomTree mengeluarkan 23 emiten, di antaranya TLKM, PTBA, PGAS, dan BREN. ETF EIDO turun 1,71% dan indeks MSCI Indonesia melemah 1,33%.